HTML

Sabtu, 29 Mei 2010

Keistimewaan muslim dan mukmin

1. Tidak ada orang yang lebih mulia
di sisi Allah dari seorang mukmin.
(HR. Ath-Thabrani)
2. Umatku (umat Muhammad) ibarat
air hujan, tidak diketahui mana yang
lebih baik awalnya atau akhirnya.
(Mashabih Assunnah)
3. Sesungguhnya di kalangan
hamba-hamba Allah ada orang
yang apabila memohonkan sesuatu
maka Allah akan menerimanya
(mengabulkannya). (HR. Bukhari dan
Muslim)
4. Waspadalah terhadap firasat
seorang mukmin. Sesungguhnya
dia melihat dengan nur Allah." (HR.
Tirmidzi dan Ath-Thabrani)
5. Sebaik-baik umatku adalah apabila
pergi (musafir) dia berbuka puasa
dan shalat Qashar, dan jika berbuat
kebaikan merasa gembira, tetapi
apabila melakukan keburukan dia
beristighfar. Dan seburuk-buruk
umatku adalah yang dilahirkan
dalam kenikmatan dan dibesarkan
dengannya, makanannya sebaik-
baik makanan, dia mengenakan
pakaian mewah-mewah dan bila
berkata tidak benar (tidak jujur). (HR.
Ath-Thabrani)
6. Barangsiapa menyenangi amalan
kebaikannya dan menyedihkan
(bersedih dengan) keburukannya
maka dia adalah seorang mukmin.
(HR. Al Hakim)
7. Akan ada suatu umat dari umatku
yang masih tetap melaksanakan
perintah Allah, maka tidak akan
membahayakan mereka orang-
orang yang mengecewakan dan
menentangnya dan sampai tiba
ketentuan Allah mereka tetap dalam
penderitaan tersebut. (HR. Al Hakim)
8. Orang yang shaleh selalu
mendapat tekanan-tekanan. (HR. Al
Hakim)
9. Allah Azza wajalla mewajibkan
tujuh hak kepada seorang mukmin
terhadap mukmin lainnya, yaitu: (1)
melihat saudara seimannya dengan
rasa hormat dalam pandangan
matanya; (2) mencintainya di dalam
hatinya; (3) menyantuninya dengan
hartanya; (4) tidak menggunjingnya
atau mendengar penggunjingan
terhadap kawannya; (5)
menjenguknya bila sakit; (6) melayat
jenazahnya; (7) dan tidak menyebut
kecuali kebaikannya sesudah ia
wafat. (HR. Ibnu Baabawih)
10. Sebaik-baik kamu ialah yang
diharapkan kebaikannya dan aman
dari kejahatannya, dan seburuk-
buruk kamu ialah yang tidak
diharapkan kebaikannya dan tidak
aman dari kejahatannya. (HR.
Tirmidzi dan Abu Ya'la)
11. Mencaci-maki seorang mukmin
adalah suatu kejahatan, dan
memeranginya adalah suatu
kekufuran. (HR. Muslim)
12. Aku mengagumi seorang
mukmin. Bila memperoleh kebaikan
dia memuji Allah dan bersyukur.
Bila ditimpa musibah dia memuji
Allah dan bersabar. Seorang
mukmin diberi pahala dalam segala
hal walaupun dalam sesuap
makanan yang diangkatnya ke
mulut isterinya. (HR. Ahmad dan
Abu Dawud)
13. Seorang mukmin yang kuat lebih
baik dan lebih disukai Allah daripada
seorang mukmin yang lemah dalam
segala kebaikan. Peliharalah apa-apa
yang menguntungkan kamu dan
mohonlah pertolongan Allah, dan
jangan lemah semangat (patah hati).
Jika ditimpa suatu musibah
janganlah berkata, "Oh andaikata
aku tadinya melakukan itu tentu
berakibat begini dan begitu", tetapi
katakanlah, "Ini takdir Allah dan apa
yang dikehendaki Allah pasti
dikerjakan-Nya." Ketahuilah,
sesungguhnya ucapan: "andaikata"
dan "jikalau" membuka peluang bagi
(masuknya) karya (kerjaan)
setan." (HR. Muslim)
14. Seorang muslim ialah yang
menyelamatkan kaum muslimin
(lainnya) dari (kejahatan) lidah dan
tangannya. Seorang mukmin ialah
yang dipercaya oleh kaum beriman
terhadap jiwa dan harta mereka,
dan seorang muhajir ialah yang
berhijrah meninggalkan dan
menjauhi keburukan (kejahatan).
(HR. Ahmad)
15. Seorang mukmin tidak akan
digigit dua kali dari lobang yang satu
(sama). (Mutafaq'alaih)
16. Tidak halal bagi seorang muslim
menakut-nakuti saudaranya yang
muslim. (HR. Abu Dawud)
17. Seorang mukmin bukanlah
pengumpat dan yang suka
mengutuk, yang keji dan yang
ucapannya kotor. (HR. Bukhari)
Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar
Ajaran Muhammad) - Dr.
Muhammad Faiz Almath - Gema
Insani Press

Jumat, 28 Mei 2010

zaman

1. Sebaik-baik umatku adalah pada
abadku ini, kemudian yang
sesudahnya dan yang sesudahnya.
Kemudian sesudah mereka muncul
suatu kaum yang memberi
kesaksian tetapi tidak bisa dipercaya
kesaksiannya. Mereka berkhianat
dan tidak dapat diamanati. Mereka
bernazar (berjanji) tetapi tidak
menepatinya dan mereka tampak
gemuk-gemuk. (HR. Tirmidzi)
2. Tiada datang kepadamu jaman
kecuali yang sesudahnya lebih
buruk dari pada yang sebelumnya
sampai kamu berjumpa dengan
Allah. (HR. Ahmad)
3. Jangan memaksa dirimu berjaga
(tidak tidur) pada malam hari karena
kamu tidak mampu melakukannya.
Bila seseorang mengantuk maka
hendaklah dia tidur di tempat
tidurnya sendiri dan itu lebih aman.
(HR. Ad-Dailami)
4. Pada hari Jum'at terdapat saat
yang apabila seorang muslim
memohon kepada Allah sesuatu
kebaikan maka Allah akan
memberinya, yaitu saat antara
duduknya seorang imam (Khatib)
sampai usainya shalat. (HR. Muslim)
Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar
Ajaran Muhammad) - Dr.
Muhammad Faiz Almath - Gema
Insani Press

Kamis, 27 Mei 2010

Keutamaan do'a

1. Do'a adalah otaknya (sumsum /
inti nya) ibadah. (HR. Tirmidzi)
2. Do'a adalah senjata seorang
mukmin dan tiang (pilar) agama
serta cahaya langit dan bumi. (HR.
Abu Ya'la)
3. Akan muncul dalam umat ini
suatu kaum yang melampaui batas
kewajaran dalam berthaharah dan
berdoa. (HR. Ahmad dan Abu
Dawud)
Penjelasan:
Yakni berdoa atau mohon kepada
Allah untuk hal-hal yang tidak
mungkin dikabulkan karena
berlebih-lebihan atau untuk sesuatu
yang tidak halal (haram).
4. Do'a seorang muslim untuk
kawannya yang tidak hadir
dikabulkan Allah. (HR. Ahmad)
5. Jangan mendo'akan keburukan
(mengutuk) dirimu atau anak-
anakmu atau pelayan-pelayanmu
(karyawan-karyawanmu) atau
harta-bendamu, (karena khawatir)
saat itu cocok dikabulkan segala
permohonan dan terkabul pula
do'amu. (Ibnu Khuzaimah)
6. Rasulullah Saw ditanya, "Pada
waktu apa do'a (manusia) lebih
didengar (oleh Allah)?" Lalu
Rasulullah Saw menjawab, "Pada
tengah malam dan pada akhir tiap
shalat fardhu (sebelum salam)
." (Mashabih Assunnah)
7. Do'a yang diucapkan antara azan
dan iqomat tidak ditolak (oleh Allah).
(HR. Ahmad)
8. Bermohonlah kepada Robbmu di
saat kamu senang (bahagia).
Sesungguhnya Allah berfirman
(hadits Qudsi): "Barangsiapa berdo'a
(memohon) kepada-Ku di waktu dia
senang (bahagia) maka Aku akan
mengabulkan do'anya di waktu dia
dalam kesulitan, dan barangsiapa
memohon maka Aku kabulkan dan
barangsiapa rendah diri kepada-Ku
maka aku angkat derajatnya, dan
barangsiapa mohon kepada-Ku
dengan rendah diri maka Aku
merahmatinya dan barangsiapa
mohon pengampunanKu maka Aku
ampuni dosa-dosanya." (Ar-Rabii')
9. Ada tiga orang yang tidak ditolak
do'a mereka: (1) Orang yang
berpuasa sampai dia berbuka; (2)
Seorang penguasa yang adil; (3) Dan
do'a orang yang dizalimi (teraniaya).
Do'a mereka diangkat oleh Allah ke
atas awan dan dibukakan baginya
pintu langit dan Allah bertitah, "Demi
keperkasaanKu, Aku akan
memenangkanmu (menolongmu)
meskipun tidak segera." (HR.
Tirmidzi)
10. Barangsiapa tidak (pernah)
berdo'a kepada Allah maka Allah
murka kepadanya. (HR. Ahmad)
11. Apabila kamu berdo'a janganlah
berkata, "Ya Allah, ampunilah aku
kalau Engkau menghendaki,
rahmatilah aku kalau Engkau
menghendaki dan berilah aku rezeki
kalau Engkau menghendaki."
Hendaklah kamu bermohon dengan
kesungguhan hati sebab Allah
berbuat segala apa yang
dikehendakiNya dan tidak ada
paksaan terhadap-Nya. (HR. Bukhari
dan Muslim)
12. Hati manusia adalah kandungan
rahasia dan sebagian lebih mampu
merahasiakan dari yang lain. Bila
kamu mohon sesuatu kepada Allah
'Azza wajalla maka mohonlah
dengan penuh keyakinan bahwa
do'amu akan terkabul. Allah tidak
akan mengabulkan do'a orang yang
hatinya lalai dan lengah. (HR.
Ahmad)
13. Apabila tersisa sepertiga dari
malam hari Allah 'Azza wajalla turun
ke langit bumi dan berfirman :
"Adakah orang yang berdo'a
kepadaKu akan Kukabulkan? Adakah
orang yang beristighfar kepada-Ku
akan Kuampuni dosa- dosanya?
Adakah orang yang mohon rezeki
kepada-Ku akan Kuberinya rezeki?
Adakah orang yang mohon
dibebaskan dari kesulitan yang
dialaminya akan Kuatasi kesulitan-
kesulitannya?" Yang demikian
(berlaku) sampai tiba waktu fajar
(subuh). (HR. Ahmad)
14. Tidak ada yang lebih utama
(mulia) di sisi Allah daripada do'a.
(HR. Ahmad)
15. Tiga macam do'a dikabulkan
tanpa diragukan lagi, yaitu doa
orang yang dizalimi, doa kedua
orang tua, dan do'a seorang musafir
(yang berpergian untuk maksud dan
tujuan baik). (HR. Ahmad dan Abu
Dawud)
16. Sesungguhnya Allah Maha
Pemalu dan Maha Murah hati. Allah
malu bila ada hambaNya yang
menengadahkan tangan (memohon
kepada-Nya) lalu dibiarkannya
kosong dan kecewa. (HR. Al Hakim)
17. Tiada seorang berdo'a kepada
Allah dengan suatu do'a, kecuali
dikabulkanNya, dan dia memperoleh
salah satu dari tiga hal, yaitu
dipercepat terkabulnya baginya di
dunia, disimpan (ditabung)
untuknya sampai di akhirat, atau
diganti dengan mencegahnya dari
musibah (bencana) yang serupa.
(HR. Ath-Thabrani)
18. Barangsiapa mendo'akan
keburukan terhadap orang yang
menzaliminya maka dia telah
memperoleh kemenangan. (HR.
Tirmidzi dan Asysyihaab)
19. Ambillah kesempatan berdo'a
ketika hati sedang lemah-lembut
karena itu adalah rahmat. (HR.Ad-
Dailami)
20. Ali Ra berkata, "Rasulullah Saw
lewat ketika aku sedang
mengucapkan do'a : "Ya Allah,
rahmatilah aku". Lalu beliau
menepuk pundakku seraya berkata,
"Berdoalah juga untuk umum
(kaum muslimin) dan jangan
khusus untuk pribadi.
Sesungguhnya perbedaan antara
doa untuk umum dan khusus
adalah seperti bedanya langit dan
bumi." (HR. Ad-Dailami)
21. Berlindunglah kepada Allah dari
kesengsaraan (akibat) bencana dan
dari kesengsaraan hidup yang
bersinambungan (silih berganti dan
terus-menerus) dan suratan takdir
yang buruk dan dari cemoohan
lawan-lawan. (HR. Muslim)
22. Tidak ada manfaatnya bersikap
siaga dan berhati-hati menghadapi
takdir, akan tetapi do'a bermanfaat
bagi apa yang diturunkan dan bagi
apa yang tidak diturunkan. Oleh
karena itu hendaklah kamu berdoa,
wahai hamba-hamba Allah. (HR.
Ath-Thabrani)
23. Barangsiapa ingin agar do'anya
terkabul dan kesulitan-kesulitannya
teratasi hendaklah dia menolong
orang yang dalam kesempitan. (HR.
Ahmad)
Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar
Ajaran Muhammad) - Dr.
Muhammad Faiz Almath - Gema
Insani Press

Rabu, 26 Mei 2010

7. Agama adalah nasehat / hadits arbain

Dari Abu Ruqoyyah Tamiim bin Aus
Ad-Daari rodhiyallohu’anhu,
sesungguhnya Nabi shollallohu
‘alaihi wasallam pernah bersabda:
”Agama itu adalah nasihat”. Kami
(sahabat) bertanya: ”Untuk siapa?”
Beliau bersabda: ”Untuk Alloh, kitab-
Nya, rosul-Nya, pemimpin-
pemimpin umat islam, dan untuk
seluruh muslimin.” (HR.Muslim)
Kedudukan Hadits
Hadits ini sangat penting, karena
mengandung seluruh agama.Yaitu
mengandung hak Allah, hak rasul-
Nya, dan hak hamba-Nya.
Kewajiban penunaian hak-hak
tersebut tekandung pada kata
nasehat.
Lingkup Nasehat
Nasehat, pada asalnya berarti bersih
dari campuran atau adanya
keserasian hubungan.Pada hadits di
atas, nasehat untuk umat secara
umum dan para imam berarti
kehendak baik dari nasih kepada
mansuh, sebagaimana pengertian
yang sering dipakai untuk
mendefiniskan nasehat. Adapun
nasehat untuk lainnya, sesuai
dengan asal katanya, yaitu adanya
keserasian hubungan. Dimana
masing-masing memberikan hak
pihak lain yang mesti ditunaikan.
1. Nasehat untuk Allah.
Adalah menunaikan hak Allah seperti
telah tersebut pada pembahasan
iman kepada Allah.
2. Nasehat untuk kitab-Nya.
Adalah menunaikan hak kitab-Nya
Al-Qur’an, seperti, yakin bahwa Al-
Qur’an kalamullah, mu’jizat terbesar
diantara mu’jizat-mu’jizat yang
pernah diberikan kepada para rasul,
sebagai petunjuk dan cahaya. Selain
itu juga membenarkan beritanya
dan melaksanakan hukumnya.
3. Nasehat untuk Rasul-Nya.
Adalah menunaikan hak Rasulullah,
seperti telah tersebut pada makna
syahadat Muhammad rasulullah.
4. Nasehat untuk para imam.
Kata imam jika disebutkan secara
mutlak maka berarti penguasa, dan
adakalanya kata imam berarti ulama.
Nasehat untuk para imam, meliputi
imam dengan kedua arti tersebut.
Nasehat untuk penguasa adalah
menunaikan haknya, seperti, taat
dalam hal yang ma’ruf, tidak taat
dalam kemaksiatan, tunduk dan
tidak membangkang dan lain-lain
yang merupakan hak penguasa
yang telah dijelaskan dalam kitab
dan sunah.
Nasehat untuk ulama adalah
mencintai mereka karena
kebaikannya dan jasanya pada umat
berkat ilmunya, dan dakwahnya,
menjaga kehormatan dan
kewibawaannya serta menyebarkan
fatwa- fatwanya.
5. Nasehat untuk awam kaum
muslimin
adalah memberikan semua yang
menjadi hak mereka demi
terwujudnya maslahat dunia dan
akherat mereka
Semua hak-hak diatas ada yang
sifatnya wajib dan ada yang
sunnah.
Sumber: Ringkasan Syarah Arba’in
An-Nawawi

Selasa, 25 Mei 2010

Mengenal ilmu hadits

Definisi Musthola'ah Hadits
HADITS ialah sesuatu yang
disandarkan kepada Nabi
Muhammad SAW baik berupa
perkataan, perbuatan, pernyataan,
taqrir, dan sebagainya.
ATSAR ialah sesuatu yang
disandarkan kepada para sahabat
Nabi Muhammad SAW.
TAQRIR ialah keadaan Nabi
Muhammad SAW yang
mendiamkan, tidak mengadakan
sanggahan atau menyetujui apa
yang telah dilakukan atau
diperkatakan oleh para sahabat di
hadapan beliau.
SAHABAT ialah orang yang bertemu
Rosulullah SAW dengan pertemuan
yang wajar sewaktu beliau masih
hidup, dalam keadaan islam lagi
beriman dan mati dalam keadaan
islam.
TABI'IN ialah orang yang
menjumpai sahabat, baik
perjumpaan itu lama atau sebentar,
dan dalam keadaan beriman dan
islam, dan mati dalam keadaan
islam.
MATAN ialah lafadz hadits yang
diucapkan oleh Nabi Muhammad
SAW, atau disebut juga isi hadits.
Unsur-Unsur Yang Harus Ada
Dalam Menerima Hadits
Rawi, yaitu orang yang
menyampaikan atau menuliskan
hadits dalam suatu kitab apa-apa
yang pernah didengar dan
diterimanya dari seseorang atau
gurunya. Perbuatannya
menyampaikan hadits tersebut
dinamakan merawi atau
meriwayatkan hadits dan orangnya
disebut perawi hadits.
Sistem Penyusun Hadits Dalam
Menyebutkan Nama Rawi
1. As Sab'ah berarti diriwayatkan oleh
tujuh perawi, yaitu :
1. Ahmad
2. Bukhari
3. Turmudzi
4. Nasa'i
5. Muslim
6. Abu Dawud
7. Ibnu Majah
2. As Sittah berarti diriwayatkan oleh
enam perawi yaitu : Semua nama
yang tersebut diatas (As Sab'ah)
selain Ahmad
3. Al Khomsah berarti diriwayatkan
oleh lima perawi yaitu : Semua
nama yang tersebut diatas (As
Sab'ah) selain Bukhari dan Muslim
4. Al Arba'ah berarti diriwayatkan oleh
empat perawi yaitu : Semua nama
yang tersebut diatas (As Sab'a)
selain Ahmad, Bukhari dan Muslim.
5. Ats Tsalasah berarti diriwayatkan
oleh tiga perawi yaitu : Semua nama
yang tersebut diatas (As Sab'ah)
selain Ahmad, Bukhari, Muslim dan
Ibnu Majah.
6. Asy Syaikhon berarti diriwayatkan
oleh dua orang perawi yaitu :
Bukhari dan Muslim
7. Al Jama'ah berarti diriwayatkan oleh
para perawi yang banyak sekali
jumlahnya (lebih dari tujuh perawi /
As Sab'ah).
Matnu'l Hadits adalah pembicaraan
(kalam) atau materi berita yang
berakhir pada sanad yang terakhir.
Baik pembicaraan itu sabda
Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam, sahabat ataupun tabi'in. Baik
isi pembicaraan itu tentang
perbuatan Nabi, maupun perbuatan
sahabat yang tidak disanggah oleh
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam .
Sanad atau Thariq adalah jalan
yang dapat menghubungkan
matnu'l hadits kepada Nabi
Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam .
Gambaran Sanad
Untuk memahami pengertian sanad,
dapat digambarkan sebagai berikut:
Sabda Rosulullah Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam didengar oleh sahabat
(seorang atau lebih). Sahabat ini
(seorang atau lebih) menyampaikan
kepada tabi'in (seorang atau lebih),
kemudian tabi'in menyampaikan
pula kepada orang-orang dibawah
generasi mereka. Demikian
seterusnya hingga dicatat oleh
imam-imam ahli hadits seperti
Muslim, Bukhari, Abu Dawud, dll.
Contoh:
Waktu meriwayatkan hadits Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam,
Bukhari berkata hadits ini diucapkan
kepada saya oleh A, dan A berkata
diucapkan kepada saya oleh B, dan
B berkata diucapkan kepada saya
oleh C, dan C berkata diucapkan
kepada saya oleh D, dan D berkata
diucapkan kepada saya oleh Nabi
Muhammad.
Awal Sanad dan akhir Sanad
Menurut istilah ahli hadits, sanad itu
ada permulaannya (awal) dan ada
kesudahannya (akhir). Seperti
contoh diatas yang disebut awal
sanad adalah A dan akhir sanad
adalah D.
Klasifikasi Hadits
Klasifikasi hadits menurut dapat
(diterima) atau ditolaknya hadits
sebagai hujjah (dasar hukum)
adalah:
1. Hadits Shohih, adalah hadits yang
diriwayatkan oleh rawi yang adil,
sempurna ingatan, sanadnya
bersambung, tidak ber illat dan tidak
janggal. Illat hadits yang dimaksud
adalah suatu penyakit yang samar-
samar yang dapat menodai
keshohihan suatu hadits.
2. Hadits Makbul adalah hadits-hadits
yang mempunyai sifat-sifat yang
dapat diterima sebagai Hujjah. Yang
termasuk hadits makbul adalah
Hadits Shohih dan Hadits Hasan.
3. Hadits Hasan adalah hadits yang
diriwayatkan oleh Rawi yang adil,
tapi tidak begitu kuat ingatannya
(hafalan), bersambung sanadnya,
dan tidak terdapat illat serta
kejanggalan pada matannya. Hadits
Hasan termasuk hadits yang
Makbul, biasanya dibuat hujjah buat
sesuatu hal yang tidak terlalu berat
atau terlalu penting.
4. Hadits Dhoif adalah hadits yang
kehilangan satu syarat atau lebih dari
syarat-syarat hadits shohih atau
hadits hasan. Hadits Dhoif banyak
macam ragamnya dan mempunyai
perbedaan derajat satu sama lain,
disebabkan banyak atau sedikitnya
syarat-syarat hadits shohih atau
hasan yang tidak dipenuhinya.
Syarat-syarat Hadits Shohih
Suatu hadits dapat dinilai shohih
apabila telah memenuhi 5 Syarat :
Rawinya bersifat Adil
Sempurna ingatan
Sanadnya tidak terputus
Hadits itu tidak berillat dan
Hadits itu tidak janggal
Arti Adil dalam periwayatan,
seorang rawi harus memenuhi 4
syarat untuk dinilai adil, yaitu :
Selalu memelihara perbuatan taat
dan menjahui perbuatan maksiat.
Menjauhi dosa-dosa kecil yang
dapat menodai agama dan sopan
santun.
Tidak melakukan perkara-perkara
Mubah yang dapat menggugurkan
iman kepada kadar dan
mengakibatkan penyesalan.
Tidak mengikuti pendapat salah satu
madzhab yang bertentangan
dengan dasar Syara'.
Klasifikasi Hadits Dhoif
berdasarkan kecacatan
perawinya
Hadits Maudhu': adalah hadits yang
diciptakan oleh seorang pendusta
yang ciptaan itu mereka katakan
bahwa itu adalah sabda Nabi SAW,
baik hal itu disengaja maupun tidak.
Hadits Matruk: adalah hadits yang
menyendiri dalam periwayatan,
yang diriwayatkan oleh orang yang
dituduh dusta dalam perhaditsan.
Hadits Munkar: adalah hadits yang
menyendiri dalam periwayatan,
yang diriwayatkan oleh orang yang
banyak kesalahannya, banyak
kelengahannya atau jelas
kefasiqkannya yang bukan karena
dusta. Di dalam satu jurusan jika
ada hadits yang diriwayatkan oleh
dua hadits lemah yang berlawanan,
misal yang satu lemah sanadnya,
sedang yang satunya lagi lebih
lemah sanadnya, maka yang lemah
sanadnya dinamakan hadits Ma'ruf
dan yang lebih lemah dinamakan
hadits Munkar.
Hadits Mu'allal (Ma'lul, Mu'all): adalah
hadits yang tampaknya baik, namun
setelah diadakan suatu penelitian dan
penyelidikan ternyata ada cacatnya.
Hal ini terjadi karena salah sangka
dari rawinya dengan menganggap
bahwa sanadnya bersambung,
padahal tidak. Hal ini hanya bisa
diketahui oleh orang-orang yang ahli
hadits.
Hadits Mudraj (saduran): adalah
hadits yang disadur dengan sesuatu
yang bukan hadits atas perkiraan
bahwa saduran itu termasuk hadits.
Hadits Maqlub: adalah hadits yang
terjadi mukhalafah (menyalahi hadits
lain), disebabkan mendahului atau
mengakhirkan.
Hadits Mudltharrib: adalah hadits
yang menyalahi dengan hadits lain
terjadi dengan pergantian pada satu
segi yang saling dapat bertahan,
dengan tidak ada yang dapat
ditarjihkan (dikumpulkan).
Hadits Muharraf: adalah hadits yang
menyalahi hadits lain terjadi
disebabkan karena perubahan
Syakal kata, dengan masih tetapnya
bentuk tulisannya.
Hadits Mushahhaf: adalah hadits
yang mukhalafahnya karena
perubahan titik kata, sedang bentuk
tulisannya tidak berubah.
Hadits Mubham: adalah hadits yang
didalam matan atau sanadnya
terdapat seorang rawi yang tidak
dijelaskan apakah ia laki-laki atau
perempuan.
Hadits Syadz (kejanggalan): adalah
hadits yang diriwayatkan oleh
seorang yang makbul (tsiqah)
menyalahi riwayat yang lebih rajih,
lantaran mempunyai kelebihan
kedlabithan atau banyaknya sanad
atau lain sebagainya, dari segi
pentarjihan.
Hadits Mukhtalith: adalah hadits yang
rawinya buruk hafalannya,
disebabkan sudah lanjut usia,
tertimpa bahaya, terbakar atau
hilang kitab-kitabnya.
Klasifikasi hadits Dhoif
berdasarkan gugurnya rawi
Hadits Muallaq: adalah hadits yang
gugur (inqitha') rawinya seorang
atau lebih dari awal sanad.
Hadits Mursal: adalah hadits yang
gugur dari akhir sanadnya,
seseorang setelah tabi'in.
Hadits Mudallas: adalah hadits yang
diriwayatkan menurut cara yang
diperkirakan, bahwa hadits itu tiada
bernoda. Rawi yang berbuat
demikian disebut Mudallis.
Hadits Munqathi': adalah hadits yang
gugur rawinya sebelum sahabat,
disatu tempat, atau gugur dua
orang pada dua tempat dalam
keadaan tidak berturut-turut.
Hadits Mu'dlal: adalah hadits yang
gugur rawi-rawinya, dua orang atau
lebih berturut turut, baik sahabat
bersama tabi'in, tabi'in bersama
tabi'it tabi'in, maupun dua orang
sebelum sahabat dan tabi'in.
Klasifikasi hadits Dhoif
berdasarkan sifat matannya
Hadits Mauquf: adalah hadits yang
hanya disandarkan kepada sahabat
saja, baik yang disandarkan itu
perkataan atau perbuatan dan baik
sanadnya bersambung atau
terputus.
Hadits Maqthu': adalah perkataan
atau perbuatan yang berasal dari
seorang tabi'in serta di mauqufkan
padanya, baik sanadnya
bersambung atau tidak.
Apakah Boleh Berhujjah dengan
hadits Dhoif ?
Para ulama sepakat melarang
meriwayatkan hadits dhoif yang
maudhu' tanpa menyebutkan
kemaudhu'annya. Adapun kalau
hadits dhoif itu bukan hadits
maudhu' maka diperselisihkan
tentang boleh atau tidaknya
diriwayatkan untuk berhujjah.
Berikut ini pendapat yang ada yaitu:
Pendapat Pertama Melarang
secara mutlak meriwayatkan segala
macam hadits dhoif, baik untuk
menetapkan hukum, maupun untuk
memberi sugesti amalan utama.
Pendapat ini dipertahankan oleh Abu
Bakar Ibnul 'Araby.
Pendapat Kedua Membolehkan,
kendatipun dengan melepas
sanadnya dan tanpa menerangkan
sebab-sebab kelemahannya, untuk
memberi sugesti, menerangkan
keutamaan amal (fadla'ilul a'mal dan
cerita-cerita, bukan untuk
menetapkan hukum-hukum syariat,
seperti halal dan haram, dan bukan
untuk menetapkan aqidah-aqidah).
Para imam seperti Ahmad bin
hambal, Abdullah bin al Mubarak
berkata: "Apabila kami
meriwayatkan hadits tentang halal,
haram dan hukum-hukum, kami
perkeras sanadnya dan kami kritik
rawi-rawinya. Tetapi bila kami
meriwayatkan tentang keutamaan,
pahala dan siksa kami permudah
dan kami perlunak rawi-rawinya."
Karena itu, Ibnu Hajar Al Asqalany
termasuk ahli hadits yang
membolehkan berhujjah dengan
hadits dhoif untuk fadla'ilul amal. Ia
memberikan 3 syarat dalam hal
meriwayatkan hadits dhoif, yaitu:
1. Hadits dhoif itu tidak keterlaluan.
Oleh karena itu, untuk hadits-hadits
dhoif yang disebabkan rawinya
pendusta, tertuduh dusta, dan
banyak salah, tidak dapat dibuat
hujjah kendatipun untuk fadla'ilul
amal.
2. Dasar amal yang ditunjuk oleh
hadits dhoif tersebut, masih
dibawah satu dasar yang
dibenarkan oleh hadits yang dapat
diamalkan (shahih dan hasan)
3. Dalam mengamalkannya tidak
mengitikadkan atau menekankan
bahwa hadits tersebut benar-benar
bersumber kepada nabi, tetapi
tujuan mengamalkannya hanya
semata mata untuk ikhtiyath (hati-
hati) belaka.
Klasifikasi hadits dari segi
sedikit atau banyaknya rawi :
[1] Hadits Mutawatir: adalah suatu
hadits hasil tanggapan dari panca
indra, yang diriwayatkan oleh
sejumlah besar rawi, yang menurut
adat kebiasaan mustahil mereka
berkumpul dan bersepakat dusta.
Syarat syarat hadits mutawatir
1. Pewartaan yang disampaikan oleh
rawi-rawi tersebut harus
berdasarkan tanggapan panca indra.
Yakni warta yang mereka
sampaikan itu harus benar benar
hasil pendengaran atau penglihatan
mereka sendiri.
2. Jumlah rawi-rawinya harus
mencapai satu ketentuan yang tidak
memungkinkan mereka bersepakat
bohong/dusta.
3. Adanya keseimbangan jumlah
antara rawi-rawi dalam lapisan
pertama dengan jumlah rawi-rawi
pada lapisan berikutnya. Kalau suatu
hadits diriwayatkan oleh 5 sahabat
maka harus pula diriwayatkan oleh
5 tabi'in demikian seterusnya, bila
tidak maka tidak bisa dinamakan
hadits mutawatir.
[2] Hadits Ahad: adalah hadits
yang tidak memenuhi syarat syarat
hadits mutawatir.
Klasifikasi hadits Ahad
1. Hadits Masyhur: adalah hadits yang
diriwayatkan oleh 3 orang rawi atau
lebih, serta belum mencapai derajat
mutawatir.
2. Hadits Aziz: adalah hadits yang
diriwayatkan oleh 2 orang rawi,
walaupun 2 orang rawi tersebut
pada satu thabaqah (lapisan) saja,
kemudian setelah itu orang-orang
meriwayatkannya.
3. Hadits Gharib: adalah hadits yang
dalam sanadnya terdapat seorang
yang menyendiri dalam
meriwayatkan, dimana saja
penyendirian dalam sanad itu
terjadi.
Hadits Qudsi atau Hadits Rabbani
atau Hadits Ilahi
Adalah sesuatu yang dikabarkan
oleh Allah kepada nabiNya dengan
melalui ilham atau impian, yang
kemudian nabi menyampaikan
makna dari ilham atau impian
tersebut dengan ungkapan kata
beliau sendiri.
Perbedaan Hadits Qudsi dengan
hadits Nabawi
Pada hadits qudsi biasanya diberi ciri
ciri dengan dibubuhi kalimat-
kalimat :
Qala ( yaqalu ) Allahu
Fima yarwihi 'anillahi Tabaraka wa
Ta'ala
Lafadz lafadz lain yang semakna
dengan apa yang tersebut diatas.
Perbedaan Hadits Qudsi dengan Al-
Qur'an:
Semua lafadz-lafadz Al-Qur'an
adalah mukjizat dan mutawatir,
sedang hadits qudsi tidak demikian.
Ketentuan hukum yang berlaku bagi
Al-Qur'an, tidak berlaku pada hadits
qudsi. Seperti larangan menyentuh,
membaca pada orang yang
berhadats, dll.
Setiap huruf yang dibaca dari Al-
Qur'an memberikan hak pahala
kepada pembacanya.
Meriwayatkan Al-Qur'an tidak boleh
dengan maknanya saja atau
mengganti lafadz sinonimnya,
sedang hadits qudsi tidak demikian.
Bid'ah
Yang dimaksud dengan bid'ah ialah
sesuatu bentuk ibadah yang
dikategorikan dalam menyembah
Allah yang Allah sendiri tidak
memerintahkannya, Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak
menyontohkannya, serta para
sahabat-sahabat Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak
menyontohkannya.
Kewajiban sebagai seorang muslim
adalah mengingatkan amar ma'ruf
nahi munkar kepada saudara-
saudara seiman yang masih sering
mengamalkan amalan-amalan
ataupun cara-cara bid'ah.
Alloh berfirman, dalam QS Al-
Maidah ayat 3, "Pada hari ini telah
Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-
ridai Islam itu jadi agama bagimu."
Jadi tidak ada satu halpun yang luput
dari penyampaian risalah oleh Nabi.
Sehingga jika terdapat hal-hal baru
yang berhubungan dengan ibadah,
maka itu adalah bid'ah.
"Kulu bid'ah dholalah..." semua
bid'ah adalah sesat (dalam masalah
ibadah). "Wa dholalatin fin Naar..."
dan setiap kesesatan itu adanya
dalam neraka.
Beberapa hal seperti speaker, naik
pesawat, naik mobil, pakai pasta
gigi, tidak dapat dikategorikan
sebagai bid'ah. Semua hal ini tidak
dapat dikategorikan sebagai bentuk
ibadah yang menyembah Allah. Ada
tata cara dalam beribadah yang
wajib dipenuhi, misalnya dalam hal
sembahyang ada ruku, sujud,
pembacaan al-Fatihah, tahiyat, dst.
Ini semua adalah wajib dan siapa
pun yang menciptakan cara baru
dalam sembahyang, maka itu
adalah bid'ah. Ada tata cara dalam
ibadah yang dapat kita ambil
hikmahnya. Seperti pada zaman
Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
menggunakan siwak, maka
sekarang menggunakan sikat gigi
dan pasta gigi, terkecuali beberapa
muslim di Arab, India, dst.
Menemukan hal baru dalam ilmu
pengetahuan bukanlah bid'ah,
bahkan dapat menjadi ladang amal
bagi umat muslim. Banyak muncul
hadits-hadits yang bermuara
(matannya) kepada hal bid'ah. Dan
ini sangat sulit sekali untuk
diingatkan kepada para pengamal
bid'ah.
Apakah yang menyebabkan
timbulnya Hadits-Hadits Palsu?
Didalam Kitab Khulaashah Ilmil
Hadits dijelaskan bahwa kabar yang
datang pada Hadits ada tiga macam:
1. Yang wajib dibenarkan (diterima).
2. Yang wajib ditolak (didustakan, tidak
boleh diterima) yaitu Hadits yang
diadakan orang mengatasnamakan
Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam.
3. Yang wajib ditangguhkan (tidak
boleh diamalkan) dulu sampai jelas
penelitian tentang kebenarannya,
karena ada dua kemungkinan. Boleh
jadi itu adalah ucapan Nabi dan
boleh jadi pula itu bukan ucapan
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam (dipalsukan atas nama
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam).
Untuk mengetahui apakah Hadits itu
palsu atau tidak, ada beberapa cara,
diantaranya:
1. Atas pengakuan orang yang
memalsukannya. Misalnya Imam
Bukhari pernah meriwayatkan
dalam Kitab Taarikhut Ausath dari
'Umar bin Shub-bin bin 'Imran At-
Tamiimy sesungguhnya dia pernah
berkata, artinya: Aku pernah
palsukan khutbah Rosululloh
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.
Maisaroh bin Abdir Rabbik Al-Farisy
pernah mengakui bahwa dia sendiri
telah memalsukan Hadits hadits
yang berhubung-an dengan
Fadhilah Qur'an (Keutamaan Al-
Qur'an) lebih dari 70 hadits, yang
sekarang banyak diamalkan oleh
ahli-ahli Bid'ah. Menurut pengakuan
Abu 'Ishmah Nuh bin Abi Maryam
bahwa dia pernah memalsukan dari
Ibnu Abbas beberapa Hadits yang
hubungannya dengan Fadhilah
Qur'an satu Surah demi Surah.
(Kitab Al-Baa'itsul Hatsiits).
2. Dengan memperhatikan dan
mempelajari tanda-tanda/qorinah
yang lain yang dapat menunjukkan
bahwa Hadits itu adalah Palsu.
Misalnya dengan melihat dan
memperhatikan keadaan dan sifat
perawi yang meriwayatkan Hadits
itu.
3. Terdapat ketidaksesuaian makna dari
matan (isi cerita) hadits tersebut
dengan Al-Qur'an. Hadits tidak
pernah bertentangan dengan apa
yang ada dalam ayat-ayat Qur'an.
4. Terdapat kekacauan atau terasa
berat didalam susunannya, baik
lafadznya ataupun ditinjau dari
susunan bahasa dan Nahwunya
(grammarnya).
Sebab-sebab terjadi atas
timbulnya Hadits-hadits Palsu
Adanya kesengajaan dari pihak lain
untuk merusak ajaran Islam.
Misalnya dari kaum Orientalis Barat
yang sengaja mempelajari Islam
untuk tujuan menghancurkan Islam
(seperti Snouck Hurgronje).
Untuk menguatkan pendirian atau
madzhab suatu golongan tertentu.
Umumnya dari golongan Syi'ah,
golongan Tareqat, golongan Sufi,
para Ahli Bid'ah, orang-orang
Zindiq, orang yang menamakan diri
mereka Zuhud, golongan
Karaamiyah, para Ahli Cerita, dan
lain-lain. Semua yang tersebut ini
membolehkan untuk meriwayatkan
atau mengadakan Hadits-hadits
Palsu yang ada hubungannya
dengan semua amalan-amalan yang
mereka kerjakan. Yang disebut
'Targhiib' atau sebagai suatu
ancaman yang yang terkenal
dengan nama 'At-Tarhiib'.
Untuk mendekatkan diri kepada
Sultan, Raja, Penguasa, Presiden,
dan lain-lainnya dengan tujuan
mencari kedudukan.
Untuk mencari penghidupan dunia
(menjadi mata pencaharian dengan
menjual hadits-hadits Palsu).
Untuk menarik perhatian orang
sebagaimana yang telah dilakukan
oleh para ahli dongeng dan tukang
cerita, juru khutbah, dan lain-
lainnya.
Hukum meriwayatkan Hadits-
hadits Palsu
Secara Muthlaq, meriwayatkan
hadits-hadits palsu itu hukumnya
haram bagi mereka yang sudah
jelas mengetahui bahwa hadits itu
palsu.
Bagi mereka yang meriwayatkan
dengan tujuan memberi tahu
kepada orang bahwa hadits ini
adalah palsu (menerangkan kepada
mereka sesudah meriwayatkan atau
mebacakannya) maka tidak ada
dosa atasnya.
Mereka yang tidak tahu sama sekali
kemudian meriwayatkannya atau
mereka mengamalkan makna hadits
tersebut karena tidak tahu, maka
tidak ada dosa atasnya. Akan tetapi
sesudah mendapatkan penjelasan
bahwa riwayat atau hadits yang dia
ceritakan atau amalkan itu adalah
hadits palsu, maka hendaklah segera
dia tinggalkannya, kalau tetap dia
amalkan sedang dari jalan atau
sanad lain tidak ada sama sekali,
maka hukumnya tidak boleh
(berdosa - dari Kitab Minhatul
Mughiits).
(Sumber Rujukan: Kitab Hadits Dhaif
dan Maudhlu - Muhammad
Nashruddin Al-Albany; Kitab Hadits
Maudhlu - Ibnu Qoyyim Al-
Jauziyah; Kitab Mengenal Hadits
Maudhlu - Muhammad bin Ali Asy-
Syaukaaniy; Kitab Kalimat-kalimat
Thoyiib - Ibnu Taimiyah (tahqiq oleh
Muhammad Nashruddin Al-Albany);
Kitab Mushtholahul Hadits - A.
Hassan)
Sumber: http://
mediaislam.fisikateknik.org

Senin, 24 Mei 2010

akhlak

1. Paling dekat dengan aku
kedudukannya pada had kiamat
adalah orang yang paling baik
akhlaknya dan sebaik-baik kamu
ialah yang paling baik terhadap
keluarganya. (HR. Ar-Ridha)
2. Tidak ada sesuatu yang lebih
berat dalam timbangan (pada hari
kiamat) dari akhlak yang baik. (HR.
Abu Dawud)
3. Ummu Salamah, isteri Nabi Saw
bertanya, "Ya Rasulullah, seorang
wanita dari kami ada yang kawin
dua, tiga dan empat kali lalu dia
wafat dan masuk surga bersama
suami-suaminya juga. Siapakah
kelak yang akan menjadi suaminya
di surga?" Nabi Saw menjawab, "Dia
disuruh memilih dan yang dia pilih
adalah yang paling baik akhlaknya
dengan berkata, "Ya Robbku, orang
ini ketika dalam negeri dunia paling
baik akhlaknya terhadapku.
Kawinkanlah aku dengan dia. Wahai
Ummu Salamah, akhlak yang baik
membawa kebaikan untuk
kehidupan dunia dan akhirat." (HR.
Ath-Thabrani)
4. Kamu tidak bisa memperoleh
simpati semua orang dengan
hartamu tetapi dengan wajah yang
menarik (simpati) dan dengan akhlak
yang baik. (HR. Abu Ya'la dan Al-
Baihaqi)
5. Kebajikan itu ialah akhlak yang
baik dan dosa itu ialah sesuatu yang
merisaukan dirimu dan kamu tidak
senang bila diketahui orang lain. (HR.
Muslim)
6. Ya Rasulullah, terangkan tentang
Islam dan aku tidak perlu lagi
bertanya-tanya kepada orang lain.
Nabi Saw menjawab, "Katakan: 'Aku
beriman kepada Allah lalu
bersikaplah lurus (jujur)'." (HR.
Muslim)
7. Jauhilah segala yang haram
niscaya kamu menjadi orang yang
paling beribadah. Relalah dengan
pembagian (rezeki) Allah kepadamu
niscaya kamu menjadi orang paling
kaya. Berperilakulah yang baik
kepada tetanggamu niscaya kamu
termasuk orang mukmin. Cintailah
orang lain pada hal-hal yang kamu
cintai bagi dirimu sendiri niscaya
kamu tergolong muslim, dan
janganlah terlalu banyak tertawa.
Sesungguhnya terlalu banyak
tertawa itu mematikan hati. (HR.
Ahmad dan Tirmidzi)
8. Di antara akhlak seorang mukmin
adalah berbicara dengan baik, bila
mendengarkan pembicaraan tekun,
bila berjumpa orang dia
menyambut dengan wajah ceria
dan bila berjanji ditepati. (HR. Ad-
Dailami)
9. Tidak ada kemelaratan yang lebih
parah dari kebodohan dan tidak ada
harta (kekayaan) yang lebih
bermanfaat dari kesempurnaan akal.
Tidak ada kesendirian yang lebih
terisolir dari ujub (rasa angkuh) dan
tidak ada tolong-menolong yang
lebih kokoh dari musyawarah. Tidak
ada kesempurnaan akal melebihi
perencanaan (yang baik dan
matang) dan tidak ada kedudukan
yang lebih tinggi dari akhlak yang
luhur. Tidak ada wara' yang lebih
baik dari menjaga diri (memelihara
harga dan kehormatan diri), dan
tidak ada ibadah yang lebih
mengesankan dari tafakur (berpikir),
serta tidak ada iman yang lebih
sempurna dari sifat malu dan sabar.
(HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)
10. Menghemat dalam nafkah
separo pendapatan (belanja), dan
mengasihi serta menyayangi orang
lain adalah separo akal, sedangkan
bertanya dengan baik adalah separo
ilmu. (HR. Ath-Thabrani)
11. Kemuliaan orang adalah
agamanya, harga dirinya
(kehormatannya) adalah akalnya,
sedangkan ketinggian
kedudukannya adalah akhlaknya.
(HR. Ahmad dan Al Hakim)
12. Kebijaksanaan adalah tongkat
yang hilang bagi seorang mukmin.
Dia harus mengambilnya dari siapa
saja yang didengarnya, tidak peduli
dari sumber mana datangnya. (HR.
Ibnu Hibban)
13. Kalau kamu sudah tidak punya
malu lagi, lakukanlah apa yang
kamu kehendaki. (HR. Bukhari)
14. Tidak ada sesuatu yang ditelan
seorang hamba yang lebih afdhol di
sisi Allah daripada menelan
(menahan) amarah yang ditelannya
karena keridhoan Allah Ta'ala. (HR.
Ahmad)
15. Seorang sahabat berkata kepada
Nabi Saw, "Ya Rasulullah,
berpesanlah kepadaku." Nabi Saw
berpesan, "Jangan suka marah
(emosi)." Sahabat itu bertanya
berulang-ulang dan Nabi Saw tetap
berulang kali berpesan, "Jangan suka
marah." (HR. Bukhari)
16. Barangsiapa banyak diam maka
dia akan selamat. (HR. Ahmad)
17. Hati-hatilah terhadap prasangka.
Sesungguhnya prasangka adalah
omongan paling dusta. (HR.
Bukhari)
18. Bukan akhlak seorang mukmin
berbicara dengan lidah yang tidak
sesuai kandungan hatinya.
Ketenangan (sabar dan berhati-hati)
adalah dari Allah dan tergesa-gesa
(terburu-buru) adalah dari setan.
(HR. Asysyihaab)
19. Seorang yang baik keislamannya
ialah yang meninggalkan apa-apa
yang tidak berkepentingan
dengannya. (HR. Tirmidzi)
20. Dekatkan dirimu kepada-Ku
(Allah) dengan mendekatkan dirimu
kepada kaum lemah dan berbuatlah
ihsan kepada mereka.
Sesungguhnya kamu memperoleh
rezeki dan pertolongan karena
dukungan dan bantuan kaum lemah
di kalangan kamu. (HR. Muslim)
21. Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak yang
mulia. (HR. Al Bazzaar)
22. Barangsiapa rendah hati kepada
saudaranya semuslim maka Allah
akan mengangkat derajatnya, dan
barangsiapa mengangkat diri
terhadapnya maka Allah akan
merendahkannya. (HR. Ath-
Thabrani)
23. Allah mewahyukan kepadaku
agar kamu berprilaku rendah hati
agar tidak ada orang yang
menzalimi orang lain atau
menyombongkan dirinya terhadap
orang lain. (HR. Ahmad)
25. Sifat malu adalah dari iman dan
keimanan itu di surga, sedangkan
perkataan busuk adalah kebengisan
tabi'at dan kebengisan tabi'at di
neraka. (HR. Bukhari dan Tirmidzi)
26. Sesungguhnya cemburu (yakni
cemburu yang wajar dan masuk
akal adalah bagian) dari keimanan.
(HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Babawih)
27. Kebajikan ialah akhlak yang baik
dan dosa ialah sesuatu yang
mengganjal dalam dadamu dan
kamu tidak suka bila diketahui orang
lain. (HR. Muslim)
28. Mintalah fatwa (keterangan
hukum) kepada hati dan jiwamu.
Kebajikan ialah apa yang
menyebabkan jiwa dan hati tentram
kepadanya, sedangkan dosa ialah
apa yang merisaukan jiwa dan
menyebabkan ganjalan dalam dada
walaupun orang-orang meminta
atau memberi fatwa kepadamu.
(HR. Muslim)
24. Orang yang membawa
(mengangkut) sendiri barang
dagangannya maka dia terbebas
dari kesombongan. (HR. Al-Baihaqi)
Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar
Ajaran Muhammad) - Dr.
Muhammad Faiz Almath - Gema
Insani Press

Minggu, 23 Mei 2010

Niat

1. Sesungguhnya amal-amal
perbuatan tergantung niatnya, dan
bagi tiap orang apa yang diniatinya.
Barangsiapa hijrahnya kepada Allah
dan rasul-Nya maka hijrahnya
kepada Allah dan rasul-Nya.
Barangsiapa hijrahnya untuk meraih
kesenangan dunia atau menikahi
wanita, maka hijrahnya adalah
kepada apa yang ia hijrahi. (HR.
Bukhari)
2. Niat seorang mukmin lebih baik
dari amalnya. (HR. Al-Baihaqi dan
Ar-Rabii ’)
3. Manusia dibangkitkan kembali
kelak sesuai dengan niat-niat
mereka. (HR.-Muslim)
Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar
Ajaran Muhammad) – Dr.
Muhammad Faiz Almath – Gema
Insani Press

Sabtu, 22 Mei 2010

Pertanyaan hadits yg paling shahih

Syaikh Sa’d bin ‘Abdullah Al Humaid
ditanya tentang pertanyaan seorang
pemuda berikut :
“Saya seorang pemuda yang
memiliki ghirah tinggi terhadap
Islam, menjaga shalat dan rukun-
rukunnya. Pertanyaan saya,
manakah hadits yang paling
shahih?”.
Maka beliaupun menjawab :
Kami katakan, kami memohon
kepada Allah Jalla wa ‘Ala bagi kami
dan seluruh saudara-saudara kita,
kaum Muslimin agar dianugerai
ketegaran untuk tetap istiqamah.
Adapun mengenai hadits-hadits
shahih, maka melalui pertanyaan
anda, nampak bagi saya, bahwa
anda adalah seorang penuntut ilmu
pemula. Orang seperti anda, tentu
tidak bisa membedakan sendiri,
mana hadits yang shahih dan mana
yang tidak melalui jalur kajian sanad.
Oleh karena itu, anda harus antusias
untuk menggunakan kitab-kitab
yang konsisten memilah mana
hadits yang shahih. Bila anda
menemukan sebuah hadits dirujuk
kepada kitab ash-Shahihain (Shahih
al Bukhari dan Muslim) atau salah
satu dari keduanya, maka ini baik.
Atau bila anda mendapatkan salah
seorang ulama yang diakui kapasitas
keilmuannya menshahihkannya,
maka ini baik. Di antaranya,
pentash-hihan yang dilakukan
Syaikh Nashiruddin al Albani,
sekalipun tidak seorang pun yang
dapat terhindar dari kritikan dan
sorotan. Yang penting, beliau
memang demikian mengabdikan
dirinya untuk Sunnah Nabi Sallallahu
'Alahi Wasallam.
Orang seperti anda juga perlu
mengambil buku-buku yang
konsisten memilah mana hadits
yang shahih. Artinya, anda tidak
boleh menerima begitu saja setiap
hadits yang diriwayatkan,
menyampaikan sebuah hadits yang
dikatakan kepada anda atau
menerima hadits dari buku apa saja
yang anda lihat. Hendaknya anda
berhati-hati. Sebab Nabi Sallallahu
'Alahi Wasallam bersabda :
ْنَم َثَّدَح ىِّنَع ٍثيِدَحِب
ىَرُي ُهَّنَأ ٌبِذَك َوُهَف
ُدَحَأ َنيِبِذاَكْلا
“Barangsiapa meriwayatkan suatu
hadits dariku dan dia tahu bahwa itu
adalah dusta, maka dia adalah salah
satu dari para pendusta”
Dalam sebagian riwayat disebutkan,
”…maka ia termasuk salah seorang
tukang banyak dusta.”
Dalam hal ini, silahkan merujuk
kepada mukaddimah Shahih
Muslim, sebab beliau
mengetengahkan apa yang
semestinya dijadikan dalil dalam
masalah seperti ini, khususnya dari
pendapat-pendapat para ulama
dalam memperingatkan tindakan
meriwayatkan hadits tanpa
mengetahui mana yang shahih dan
mana yang tidaknya.? Sebab hal ini
dianggap sebagai ‘mengatakan
sesuatu terhadap Allah dan Nabi-
Nya tanpa ilmu.”
Wallahu A'lam.
(SUMBER: Fatawa Haditsiyyah karya
Syaikh Sa’d bin ‘Abdullah Al
Humaid, hal.160-161)

Kamis, 20 Mei 2010

Ketinggian Al qur'an

1. Aku tinggalkan untuk kalian dua
perkara. Kalian tidak akan sesat
selama berpegangan dengannya,
yaitu Kitabullah (Al Qur'an) dan
sunnah Rasulullah Saw. (HR.
Muslim)
2. Sesungguhnya Allah, dengan
kitab ini (Al Qur'an) meninggikan
derajat kaum-kaum dan
menjatuhkan derajat kaum yang
lain. (HR. Muslim)
Penjelasan:
Maksudnya: Barangsiapa yang
berpedoman dan mengamalkan isi
Al Qur'an maka Allah akan
meninggikan derajatnya, tapi
barangsiapa yang tidak beriman
kepada Al Qur'an maka Allah akan
menghinakannya dan merendahkan
derajatnya.
3. Apabila seorang ingin berdialog
dengan Robbnya maka hendaklah
dia membaca Al Qur'an. (Ad-Dailami
dan Al-Baihaqi)
4. Orang yang pandai membaca Al
Qur'an akan bersama malaikat yang
mulia lagi berbakti, dan yang
membaca tetapi sulit dan terbata-
bata maka dia mendapat dua pahala.
(HR. Bukhari dan Muslim)
5. Sebaik-baik kamu ialah yang
mempelajari Al Qur'an dan
mengajarkannya. (HR. Bukhari)
6. Orang yang dalam benaknya
tidak ada sedikitpun dari Al Qur'an
ibarat rumah yang bobrok.
(Mashabih Assunnah)
7. Barangsiapa mengulas Al Qur'an
tanpa ilmu pengetahuan maka
bersiaplah menduduki neraka. (HR.
Abu Dawud)
Penjelasan:
Maksud hadits ini adalah
menterjemah, menafsirkan atau
menguraikan Al Qur'an hanya
dengan akal pikirannya sendiri tanpa
panduan dari hadits Rasulullah,
panduan dari para sahabat dan
ulama yang shaleh, serta tanpa akal
dan naqal yang benar.
8. Barangsiapa menguraikan Al
Qur'an dengan akal pikirannya
sendiri dan benar, maka
sesungguhnya dia telah berbuat
kesalahan. (HR. Ahmad)
9. Barangsiapa membaca satu huruf
dari Al Qur'an maka baginya satu
pahala dan satu pahala diganjar
sepuluh kali lipat. (HR. Tirmidzi)
Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar
Ajaran Muhammad) - Dr.
Muhammad Faiz Almath - Gema
Insani Press

Rabu, 19 Mei 2010

Adab dan Kesopanan 1

Hadits ke-1
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu
'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu
'alaihi wa Sallam bersabda: "Hak
seorang muslim terhadap sesama
muslim ada enam, yaitu bila engkau
berjumpa dengannya ucapkanlah
salam; bila ia memanggilmu
penuhilah; bila dia meminta nasehat
kepadamu nasehatilah; bila dia
bersin dan mengucapkan
alhamdulillah bacalah yarhamukallah
(artinya = semoga Allah
memberikan rahmat kepadamu);
bila dia sakit jenguklah; dan bila dia
meninggal dunia hantarkanlah
(jenazahnya)". Riwayat Muslim.
Hadits ke-2
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu
'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu
'alaihi wa Sallam bersabda: "Lihatlah
orang yang berada di bawahmu
dan jangan melihat orang yang
berada di atasmu karena hal itu lebih
patut agar engkau sekalian tiak
menganggap rendah nikmat Allah
yang telah diberikan kepadamu."
Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-3
Nawas Ibnu Sam'an Radliyallaahu
'anhu berkata: Aku bertanya kepada
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam tentang kebaikan dan
kejahatan. Beliau bersabda:
"Kebaikan ialah akhlak yang baik dan
kejahatan ialah sesuatu yang
tercetus di dadamu dan engkau
tidak suka bila orang lain
mengetahuinya." Riwayat Muslim.
Hadits ke-4
Dari Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu
bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi
wa Sallam bersabda: "Apabila
engkau bertiga maka janganlah dua
orang berbisik tanpa menghiraukan
yang lain, hingga engkau bergaul
dengan manusia, karena yang
demikian itu membuatnya susah."
Muttafaq Alaihi dan lafadznya
menurut Muslim.
Hadits ke-5
Dari Imran Radliyallaahu 'anhu
bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi
wa Sallam bersabda: "Janganlah
seseorang duduk mengusir orang
lain dari tempat duduknya,
kemudian ia duduk di tempat
tersebut, namun berilah
kelonggaran dan keluasan." Muttafaq
Alaihi.
Hadits ke-6
Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam
bersabda: "Apabila salah seorang di
antara kamu makan makanan, maka
janganlah ia membasuh tangannya
sebelum ia menjilatinya atau
menjilatkannya pada orang lain."
Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-7
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu
'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu
'alaihi wa Sallam bersabda:
"Hendaklah salam itu diucapkan
yang muda kepada yang tua, yang
berjalan kepada yang duduk, dan
yang sedikit kepada yang banyak."
Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat
Muslim: "Dan yang menaiki
kendaraan kepada yang berjalan."
Hadits ke-8
Dari Ali Radliyallaahu 'anhu bahwa
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Cukuplah bagi
sekelompok orang berjalan untuk
mengucapkan salam salah seorang
di antara mereka dan cukuplah bagi
sekelompok orang lainnya
menjawab salam salah seorang di
antara mereka." Riwayat Ahmad
dan Baihaqi.
Hadits ke-9
Dari Ali Radliyallaahu 'anhu bahwa
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Janganlah
mendahului orang Yahudi dan
Nasrani dengan ucapan salam, bila
bertemu dengan mereka di sebuah
jalan usahakanlah mereka mendapat
jalan yang paling sempit." Riwayat
Muslim.
Hadits ke-10
Dari Ali Radliyallaahu 'anhu bahwa
Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam
bersabda: "Apabila salah seorang di
antara kalian bersin, hendaklah
mengucapkan alhamdulillah, dan
hendaknya saudaranya
mengucapkan untuknya
yarhamukallah. Apabila ia
mengucapkan kepadanya
yarhamukallah, hendaklah ia (orang
yang bersin) mengucapkan yahdii
kumullah wa yushlihu balaakum
(artinya = Mudah-mudahan Allah
memberikan petunjuk dan
memperbaiki hatimu)." Riwayat
Bukhari.
Hadits ke-11
Dari Ali Radliyallaahu 'anhu bahwa
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Janganlah salah
seorang di antara kalian minum
sambil berdiri." Riwayat Muslim.
Hadits ke-12
Dari Ali Radliyallaahu 'anhu bahwa
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Apabila seseorang
di antara kalian memakai sandal,
hendaknya ia mendahulukan kaki
kanan, dan apabila melepas,
hendaknya ia mendahulukan kaki
kiri, jadi kaki kananlah yang pertama
kali memakai sandal dan terakhir
melepaskannya." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-13
dari Ali Radliyallaahu 'anhu bahwa
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Janganlah
seseorang di antara kalian berjalan
dengan satu sandal, dan hendaklah
ia memakai keduanya atau melepas
keduanya." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-14
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu
bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi
wa Sallam bersabda: "Allah tidak
akan melihat orang yang menjuntai
pakaiannya terseret dengan
sombong." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-15
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu
bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi
wa Sallam bersabda: "Apabila
seseorang di antara kalian makan
hendaknya ia makan dengan tangan
kanan dan minum hendaknya ia
minum dengan tangan kanan,
karena sesungguhnya setan itu
makan dengan tangan kirinya dan
minum dengan tangan kirinya."
Riwayat Muslim.
Hadits ke-16
Dari Amar Ibnu Syu'aib, dari
ayahnya, dari kakeknya,
Radliyallaahu 'anhu bahwa
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Makanlah,
minumlah, berpakaianlah, dan
bersedekahlah tanpa berlebihan dan
sikap sombong." Riwayat Ahmad
dan Abu Dawud. Hadits mu'allaq
menurut Bukhari.
Hadits ke-17
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu
'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu
'alaihi wa Sallam bersabda:
"Barangsiapa ingin dilapangkan
rizqinya dan dipanjangkan
umurnya, hendaknya ia
menghubungkan tali kekerabatan."
Riwayat Bukhari.
Hadits ke-18
Dari Jubair Ibnu Muth'im
Radliyallaahu 'anhu bahwa
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Tidak akan masuk
surga seorang pemutus, yaitu
pemutus tali kekerabatan." Muttafaq
Alaihi.
Hadits ke-19
Dari al-Mughirah Ibnu Syu'bah
bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi
wa Sallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah
mengharamkan kalian durhaka
kepada ibu, mengubur anak
perempuan hidup-hidup, menahan
dan menuntut; dan Dia tidak suka
kalian banyak bicara, banyak
bertanya, dan menghambur-
hamburkan harta." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-20
Dari Abdullah Ibnu Amar al-'Ash
Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam
bersabda: "Keridloan Allah
tergantung kepada keridloan orang
tua dan kemurkaan Allah tergantung
kepada kemurkaan orang tua."
Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih
menurut Ibnu Hibban dan Hakim.

Selasa, 18 Mei 2010

Biografi singkat Imam Bukhari

Kelahiran dan Masa
Kecil Imam Bukhari
Imam Bukhari (semoga Allah
merahmatinya) lahir di Bukhara,
Uzbekistan, Asia Tengah. Nama
lengkapnya adalah Abu Abdullah
Muhammad bin Ismail bin Ibrahim
bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-
Ju'fiy Al Bukhari, namun beliau lebih
dikenal dengan nama Bukhari. Beliau
lahir pada hari Jumat, tepatnya pada
tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810
M). Kakeknya bernama Bardizbeh,
turunan Persi yang masih beragama
Zoroaster. Tapi orangtuanya,
Mughoerah, telah memeluk Islam di
bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy.
Sebenarnya masa kecil Imam
Bukhari penuh dengan keprihatinan.
Di samping menjadi anak yatim,
juga tidak dapat melihat karena buta
(tidak lama setelah lahir, beliau
kehilangan penglihatannya tersebut).
Ibunya senantiasa berusaha dan
berdo'a untuk kesembuhan beliau.
Alhamdulillah, dengan izin dan
karunia Allah, menjelang usia 10
tahun matanya sembuh secara total.
Imam Bukhari adalah ahli hadits
yang termasyhur diantara para ahli
hadits sejak dulu hingga kini
bersama dengan Imam Ahmad,
Imam Muslim, Abu Dawud,
Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah.
Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan
hadits, hadits-hadits beliau memiliki
derajat yang tinggi. Sebagian
menyebutnya dengan julukan
Amirul Mukminin fil Hadits
(Pemimpin kaum mukmin dalam
hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini,
hampir semua ulama di dunia
merujuk kepadanya.
Tempat beliau lahir kini termasuk
wilayah Rusia, yang waktu itu
memang menjadi pusat
kebudayaan ilmu pengetahuan
Islam sesudah Madinah, Damaskus
dan Bagdad. Daerah itu pula yang
telah melahirkan filosof-filosof besar
seperti al-Farabi dan Ibnu Sina.
Bahkan ulama-ulama besar seperti
Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni
dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia
Tengah. Sekalipun daerah tersebut
telah jatuh di bawah kekuasaan Uni
Sovyet (Rusia), namun menurut
Alexandre Benningsen dan Chantal
Lemercier Quelquejay dalam
bukunya "Islam in the Sivyet
Union" (New York, 1967), pemeluk
Islamnya masih berjumlah 30
milliun. Jadi merupakan daerah yang
pemeluk Islam-nya nomor lima
besarnya di dunia setelah Indonesia,
Pakistan, India dan Cina.
Keluarga dan Guru
Imam Bukhari
Bukhari dididik dalam keluarga
ulama yang taat beragama. Dalam
kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis
bahwa ayahnya dikenal sebagai
orang yang wara' dalam arti berhati-
hati terhadap hal-hal yang
hukumnya bersifat syubhat (ragu-
ragu), terlebih lebih terhadap hal-hal
yang sifatnya haram. Ayahnya
adalah seorang ulama bermadzhab
Maliki dan merupakan mudir dari
Imam Malik, seorang ulama besar
dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika
Bukhari masih kecil.
Perhatiannya kepada ilmu hadits
yang sulit dan rumit itu sudah
tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga
dalam usia 16 tahun beliau sudah
hafal dan menguasai buku-buku
seperti "al-Mubarak" dan "al-Waki".
Bukhari berguru kepada Syekh Ad-
Dakhili, ulama ahli hadits yang
masyhur di Bukhara. Pada usia 16
tahun bersama keluarganya, ia
mengunjungi kota suci Mekkah dan
Madinah, dimana di kedua kota suci
itu beliau mengikuti kuliah para
guru-guru besar ahli hadits. Pada
usia 18 tahun beliau menerbitkan
kitab pertamanya "Qudhaya as
Shahabah wat Tabi’ien" (Peristiwa-
peristiwa Hukum di zaman Sahabat
dan Tabi’ien).
Bersama gurunya Syekh Ishaq,
beliau menghimpun hadits-hadits
shahih dalam satu kitab, dimana dari
satu juta hadits yang diriwayatkan
oleh 80.000 perawi disaring lagi
menjadi 7275 hadits. Diantara guru-
guru beliau dalam memperoleh
hadits dan ilmu hadits antara lain
adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin
Hanbali, Yahya bin Ma'in,
Muhammad bin Yusuf Al Faryabi,
Maki bin Ibrahim Al Bakhi,
Muhammad bin Yusuf al Baykandi
dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada
289 ahli hadits yang haditsnya
dikutip dalam kitab Shahih-nya.
Kejeniusan Imam
Bukhari
Bukhari diakui memiliki daya hapal
tinggi, yang diakui oleh kakaknya
Rasyid bin Ismail. Kakak sang Imam
ini menuturkan, pernah Bukhari
muda dan beberapa murid lainnya
mengikuti kuliah dan ceramah
cendekiawan Balkh. Tidak seperti
murid lainnya, Bukhari tidak pernah
membuat catatan kuliah. Ia sering
dicela membuang waktu karena
tidak mencatat, namun Bukhari
diam tak menjawab. Suatu hari,
karena merasa kesal terhadap celaan
itu, Bukhari meminta kawan-
kawannya membawa catatan
mereka, kemudian beliau
membacakan secara tepat apa yang
pernah disampaikan selama dalam
kuliah dan ceramah tersebut.
Tercenganglah mereka semua,
lantaran Bukhari ternyata hafal di
luar kepala 15.000 hadits, lengkap
dengan keterangan yang tidak
sempat mereka catat.
Ketika sedang berada di Bagdad,
Imam Bukhari pernah didatangi oleh
10 orang ahli hadits yang ingin
menguji ketinggian ilmu beliau.
Dalam pertemuan itu, 10 ulama
tersebut mengajukan 100 buah
hadits yang sengaja "diputar-
balikkan" untuk menguji hafalan
Imam Bukhari. Ternyata hasilnya
mengagumkan. Imam Bukhari
mengulang kembali secara tepat
masing-masing hadits yang salah
tersebut, lalu mengoreksi
kesalahannya, kemudian
membacakan hadits yang benarnya.
Ia menyebutkan seluruh hadits yang
salah tersebut di luar kepala, secara
urut, sesuai dengan urutan penanya
dan urutan hadits yang ditanyakan,
kemudian membetulkannya. Inilah
yang sangat luar biasa dari sang
Imam, karena beliau mampu
menghafal hanya dalam waktu satu
kali dengar.
Selain terkenal sebagai seorang ahli
hadits, Imam Bukhari ternyata tidak
melupakan kegiatan lain, yakni
olahraga. Ia misalnya sering belajar
memanah sampai mahir, sehingga
dikatakan sepanjang hidupnya, sang
Imam tidak pernah luput dalam
memanah kecuali hanya dua kali.
Keadaan itu timbul sebagai
pengamalan sunnah Rasul yang
mendorong dan menganjurkan
kaum Muslimin belajar
menggunakan anak panah dan alat-
alat perang lainnya.
Karya-karya Imam
Bukhari
Karyanya yang pertama berjudul
"Qudhaya as Shahabah wat
Tabi’ien" (Peristiwa-peristiwa Hukum
di zaman Sahabat dan Tabi’ien).
Kitab ini ditulisnya ketika masih
berusia 18 tahun. Ketika menginjak
usia 22 tahun, Imam Bukhari
menunaikan ibadah haji ke Tanah
Suci bersama-sama dengan ibu dan
kakaknya yang bernama Ahmad. Di
sanalah beliau menulis kitab "At-
Tarikh" (sejarah) yang terkenal itu.
Beliau pernah berkata, "Saya
menulis buku "At-Tarikh" di atas
makam Nabi Muhammad SAW di
waktu malam bulan purnama".
Karya Imam Bukhari lainnya antara
lain adalah kitab Al-Jami' ash Shahih,
Al-Adab al Mufrad, At Tharikh as
Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At
Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al
Musnad al Kabir, Kitab al 'Ilal, Raf'ul
Yadain fis Salah, Birrul Walidain,
Kitab Ad Du'afa, Asami As Sahabah
dan Al Hibah. Diantara semua
karyanya tersebut, yang paling
monumental adalah kitab Al-Jami'
as-Shahih yang lebih dikenal dengan
nama Shahih Bukhari.
Dalam sebuah riwayat diceritakan,
Imam Bukhari berkata: "Aku
bermimpi melihat Rasulullah saw.,
seolah-olah aku berdiri di
hadapannya, sambil memegang
kipas yang kupergunakan untuk
menjaganya. Kemudian aku
tanyakan mimpi itu kepada sebagian
ahli ta'bir, ia menjelaskan bahwa aku
akan menghancurkan dan mengikis
habis kebohongan dari hadits-hadits
Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara
lain, yang mendorongku untuk
melahirkan kitab Al-Jami' As-Sahih."
Dalam menghimpun hadits-hadits
shahih dalam kitabnya tersebut,
Imam Bukhari menggunakan
kaidah-kaidah penelitian secara
ilmiah dan sah yang menyebabkan
keshahihan hadits-haditsnya dapat
dipertanggungjawabkan. Ia
berusaha dengan sungguh-
sungguh untuk meneliti dan
menyelidiki keadaan para perawi,
serta memperoleh secara pasti
kesahihan hadits-hadits yang
diriwayatkannya.
Imam Bukhari senantiasa
membandingkan hadits-hadits yang
diriwayatkan, satu dengan lainnya,
menyaringnya dan memilih mana
yang menurutnya paling shahih.
Sehingga kitabnya merupakan batu
uji dan penyaring bagi hadits-hadits
tersebut. Hal ini tercermin dari
perkataannya: "Aku susun kitab Al
Jami' ini yang dipilih dari 600.000
hadits selama 16 tahun."
Banyak para ahli hadits yang
berguru kepadanya, diantaranya
adalah Syekh Abu Zahrah, Abu
Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn
Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj
(pengarang kitab Shahih Muslim).
Imam Muslim menceritakan :
"Ketika Muhammad bin Ismail
(Imam Bukhari) datang ke Naisabur,
aku tidak pernah melihat seorang
kepala daerah, para ulama dan
penduduk Naisabur yang
memberikan sambutan seperti apa
yang mereka berikan kepadanya."
Mereka menyambut kedatangannya
dari luar kota sejauh dua atau tiga
marhalah (100 km), sampai-sampai
Muhammad bin Yahya Az Zihli
(guru Imam Bukhari) berkata :
"Barang siapa hendak menyambut
kedatangan Muhammad bin Ismail
besok pagi, lakukanlah, sebab aku
sendiri akan ikut menyambutnya."
Penelitian Hadits
Untuk mengumpulkan dan
menyeleksi hadits shahih, Bukhari
menghabiskan waktu selama 16
tahun untuk mengunjungi berbagai
kota guna menemui para perawi
hadits, mengumpulkan dan
menyeleksi haditsnya. Diantara kota-
kota yang disinggahinya antara lain
Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah,
Madinah), Kufah, Baghdad sampai
ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari
sering bertemu dan berdiskusi
dengan ulama besar Imam Ahmad
bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota
itu, ia bertemu dengan 80.000
perawi. Dari merekalah beliau
mengumpulkan dan menghafal satu
juta hadits.
Namun tidak semua hadits yang ia
hapal kemudian diriwayatkan,
melainkan terlebih dahulu diseleksi
dengan seleksi yang sangat ketat,
diantaranya apakah sanad (riwayat)
dari hadits tersebut bersambung
dan apakah perawi (periwayat /
pembawa) hadits itu terpercaya dan
tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar
Al Asqalani, akhirnya Bukhari
menuliskan sebanyak 9082 hadis
dalam karya monumentalnya Al
Jami' as-Shahih yang dikenal sebagai
Shahih Bukhari.
Dalam meneliti dan menyeleksi
hadits dan diskusi dengan para
perawi tersebut, Imam Bukhari
sangat sopan. Kritik-kritik yang ia
lontarkan kepada para perawi juga
cukup halus namun tajam. Kepada
para perawi yang sudah jelas
kebohongannya ia berkata, "perlu
dipertimbangkan, para ulama
meninggalkannya atau para ulama
berdiam dari hal itu" sementara
kepada para perawi yang haditsnya
tidak jelas ia menyatakan "Haditsnya
diingkari". Bahkan banyak
meninggalkan perawi yang
diragukan kejujurannya. Beliau
berkata "Saya meninggalkan 10.000
hadits yang diriwayatkan oleh
perawi yang perlu dipertimbangkan
dan meninggalkan hadits-hadits
dengan jumlah yang sama atau
lebih, yang diriwayatan oleh perawi
yang dalam pandanganku perlu
dipertimbangkan".
Banyak para ulama atau perawi
yang ditemui sehingga Bukhari
banyak mencatat jati diri dan sikap
mereka secara teliti dan akurat.
Untuk mendapatkan keterangan
yang lengkap mengenai sebuah
hadits, mencek keakuratan sebuah
hadits ia berkali-kali mendatangi
ulama atau perawi meskipun berada
di kota-kota atau negeri yang jauh
seperti Baghdad, Kufah, Mesir,
Syam, Hijaz seperti yang dikatakan
beliau "Saya telah mengunjungi
Syam, Mesir dan Jazirah masing-
masing dua kali, ke Basrah empat
kali menetap di Hijaz selama enam
tahun dan tidak dapat dihitung
berapa kali saya mengunjungi Kufah
dan Baghdad untuk menemui
ulama-ulama ahli hadits."
Disela-sela kesibukannya sebagai
sebagai ulama, pakar hadits, ia juga
dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih,
bahkan tidak lupa dengan kegiatan
kegiatan olahraga dan rekreatif
seperti belajar memanah sampai
mahir, bahkan menurut suatu
riwayat, Imam Bukhari tidak pernah
luput memanah kecuali dua kali.
Metode Imam
Bukhari dalam
Menulis Kitab
Hadits
Sebagai intelektual muslim yang
berdisiplin tinggi, Imam Bukhari
dikenal sebagai pengarang kitab
yang produktif. Karya-karyanya
tidak hanya dalam disiplin ilmu
hadits, tapi juga ilmu-ilmu lain,
seperti tafsir, fikih, dan tarikh. Fatwa-
fatwanya selalu menjadi pegangan
umat sehingga ia menduduki derajat
sebagai mujtahid mustaqil (ulama
yang ijtihadnya independen), tidak
terikat pada mazhab tertentu,
sehingga mempunyai otoritas
tersendiri dalam berpendapat dalam
hal hukum.
Pendapat-pendapatnya terkadang
sejalan dengan Imam Abu Hanifah
(Imam Hanafi, pendiri mazhab
Hanafi), tetapi terkadang bisa
berbeda dengan beliau. Sebagai
pemikir bebas yang menguasai
ribuan hadits shahih, suatu saat
beliau bisa sejalan dengan Ibnu
Abbas, Atha ataupun Mujahid dan
bisa juga berbeda pendapat dengan
mereka.
Diantara puluhan kitabnya, yang
paling masyhur ialah kumpulan
hadits shahih yang berjudul Al-Jami'
as-Shahih, yang belakangan lebih
populer dengan sebutan Shahih
Bukhari. Ada kisah unik tentang
penyusunan kitab ini. Suatu malam
Imam Bukhari bermimpi bertemu
dengan Nabi Muhammad saw.,
seolah-olah Nabi Muhammad saw.
berdiri dihadapannya. Imam Bukhari
lalu menanyakan makna mimpi itu
kepada ahli mimpi. Jawabannya
adalah beliau (Imam Bukhari) akan
menghancurkan dan mengikis habis
kebohongan yang disertakan orang
dalam sejumlah hadits Rasulullah
saw. Mimpi inilah, antara lain yang
mendorong beliau untuk menulis
kitab "Al-Jami 'as-Shahih".
Dalam menyusun kitab tersebut,
Imam Bukhari sangat berhati-hati.
Menurut Al-Firbari, salah seorang
muridnya, ia mendengar Imam
Bukhari berkata. "Saya susun kitab
Al-Jami' as-Shahih ini di Masjidil
Haram, Mekkah dan saya tidak
mencantumkan sebuah hadits pun
kecuali sesudah shalat istikharah dua
rakaat memohon pertolongan
kepada Allah, dan sesudah meyakini
betul bahwa hadits itu benar-benar
shahih". Di Masjidil Haram-lah ia
menyusun dasar pemikiran dan
bab-babnya secara sistematis.
Setelah itu ia menulis mukaddimah
dan pokok pokok bahasannya di
Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat
antara makam Rasulullah dan
mimbar di Masjid Nabawi di
Madinah. Barulah setelah itu ia
mengumpulkan sejumlah hadits
dan menempatkannya dalam bab-
bab yang sesuai. Proses
penyusunan kitab ini dilakukan di
dua kota suci tersebut dengan
cermat dan tekun selama 16 tahun.
Ia menggunakan kaidah penelitian
secara ilmiah dan cukup modern
sehingga hadits haditsnya dapat
dipertanggung-jawabkan.
Dengan bersungguh-sungguh ia
meneliti dan menyelidiki kredibilitas
para perawi sehingga benar-benar
memperoleh kepastian akan
keshahihan hadits yang
diriwayatkan. Ia juga selalu
membandingkan hadits satu dengan
yang lainnya, memilih dan
menyaring, mana yang menurut
pertimbangannya secara nalar
paling shahih. Dengan demikian,
kitab hadits susunan Imam Bukhari
benar-benar menjadi batu uji dan
penyaring bagi sejumlah hadits
lainnya. "Saya tidak memuat sebuah
hadits pun dalam kitab ini kecuali
hadits-hadits shahih", katanya suatu
saat.
Di belakang hari, para ulama hadits
menyatakan, dalam menyusun kitab
Al-Jami' as-Shahih, Imam Bukhari
selalu berpegang teguh pada tingkat
keshahihan paling tinggi dan tidak
akan turun dari tingkat tersebut,
kecuali terhadap beberapa hadits
yang bukan merupakan materi
pokok dari sebuah bab.
Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab
Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari
itu memuat 7275 hadits. Selain itu
ada hadits-hadits yang dimuat
secara berulang, dan ada 4000
hadits yang dimuat secara utuh
tanpa pengulangan. Penghitungan
itu juga dilakukan oleh Syekh
Muhyiddin An Nawawi dalam kitab
At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar
Al-Atsqalani dalam kata
pendahuluannya untuk kitab Fathul
Bari (yakni syarah atau penjelasan
atas kitab Shahih Bukhari) menulis,
semua hadits shahih yang dimuat
dalam Shahih Bukhari (setelah
dikurangi dengan hadits yang
dimuat secara berulang) sebanyak
2.602 buah. Sedangkan hadits yang
mu'allaq (ada kaitan satu dengan
yang lain, bersambung) namun
marfu (diragukan) ada 159 buah.
Adapun jumlah semua hadits
shahih termasuk yang dimuat
berulang sebanyak 7397 buah.
Perhitungan berbeda diantara para
ahli hadits tersebut dalam
mengomentari kitab Shahih Bukhari
semata-mata karena perbedaan
pandangan mereka dalam ilmu
hadits.
Terjadinya Fitnah
Muhammad bin Yahya Az-Zihli
berpesan kepada para penduduk
agar menghadiri dan mengikuti
pengajian yang diberikannya. Ia
berkata: "Pergilah kalian kepada
orang alim dan saleh itu, ikuti dan
dengarkan pengajiannya." Namun
tak lama kemudian ia mendapat
fitnah dari orang-orang yang
dengki. Mereka menuduh sang
Imam sebagai orang yang
berpendapat bahwa "Al-Qur'an
adalah makhluk".
Hal inilah yang menimbulkan
kebencian dan kemarahan gurunya,
Az-Zihli kepadanya. Kata Az-Zihli :
"Barang siapa berpendapat bahwa
lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah
makhluk, maka ia adalah ahli bid'ah.
Ia tidak boleh diajak bicara dan
majelisnya tidak boleh didatangi.
Dan barang siapa masih
mengunjungi majelisnya, curigailah
dia." Setelah adanya ultimatum
tersebut, orang-orang mulai
menjauhinya.
Sebenarnya, Imam Bukhari terlepas
dari fitnah yang dituduhkan
kepadanya itu. Diceritakan,
seseorang berdiri dan mengajukan
pertanyaan kepadanya: "Bagaimana
pendapat Anda tentang lafadz-lafadz
Al-Qur'an, makhluk ataukah bukan?"
Bukhari berpaling dari orang itu dan
tidak mau menjawab kendati
pertanyaan itu diajukan sampai tiga
kali.
Tetapi orang itu terus mendesak. Ia
pun menjawab: "Al-Qur'an adalah
kalam Allah, bukan makhluk,
sedangkan perbuatan manusia
adalah makhluk dan fitnah
merupakan bid'ah." Pendapat yang
dikemukakan Imam Bukhari ini,
yakni dengan membedakan antara
yang dibaca dengan bacaan, adalah
pendapat yang menjadi pegangan
para ulama ahli tahqiq (pengambil
kebijakan) dan ulama salaf. Tetapi
dengki dan iri adalah buta dan tuli.
Dalam sebuah riwayat disebutkan
bahwa Bukhari pernah berkata :
"Iman adalah perkataan dan
perbuatan, bisa bertambah dan bisa
berkurang. Al-Quran adalah kalam
Allah, bukan makhluk. Sahabat
Rasulullah SAW, yang paling utama
adalah Abu Bakar, Umar, Usman,
dan Ali. Dengan berpegang pada
keimanan inilah aku hidup, aku mati
dan dibangkitkan di akhirat kelak,
insya Allah." Di lain kesempatan, ia
berkata: "Barang siapa menuduhku
berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-
Qur'an adalah makhluk, ia adalah
pendusta."
Wafatnya Imam
Bukhari
Suatu ketika penduduk Samarkand
mengirim surat kepada Imam
Bukhari. Isinya, meminta dirinya
agar menetap di negeri itu
(Samarkand). Ia pun pergi
memenuhi permohonan mereka.
Ketika perjalanannya sampai di
Khartand, sebuah desa kecil terletak
dua farsakh (sekitar 10 Km) sebelum
Samarkand, ia singgah terlebih
dahulu untuk mengunjungi
beberapa familinya. Namun disana
beliau jatuh sakit selama beberapa
hari. Dan Akhirnya meninggal pada
tanggal 31 Agustus 870 M (256 H)
pada malam Idul Fitri dalam usia 62
tahun kurang 13 hari. Beliau
dimakamkan selepas Shalat Dzuhur
pada Hari Raya Idul Fitri. Sebelum
meninggal dunia, ia berpesan
bahwa jika meninggal nanti
jenazahnya agar dikafani tiga helai
kain, tanpa baju dalam dan tidak
memakai sorban. Pesan itu
dilaksanakan dengan baik oleh
masyarakat setempat. Beliau
meninggal tanpa meninggalkan
seorang anakpun.
Sumber: - http://id.wikipedia.org/
wiki/Imam_Bukhari
- http://id.wikipedia.org/
wiki/
Cara_Imam_Bukhari_dalam_menulis_kitab_hadits
- http://
www.kotasantri.com/galeria.php?
aksi=DetailArtikel&artid=173
- http://
www.almuhajir.net/article.php?
fn=seribukhari1
- http://
www.indomedia.com/
bpost/012000/28/opini/opini3.htm

Nabi Muhammad SAW

1. Rasulullah Saw bersabda: "Aku
kesayangan Allah (dan tidak
congkak). Aku membawa panji
"PUJIAN" pada hari kiamat, di
bawahnya Adam dan yang
sesudahnya (dan tidak congkak).
Aku yang pertama pemberi syafa'at
dan yang diterima syafaatnya pada
hari kiamat (dan tidak congkak). Aku
yang pertama menggerakkan pintu
surga dan Allah membukanya
untukku dan aku dimasukkanNya
bersama-sama orang-orang
beriman yang fakir (dan tidak
congkak). Dan Aku lah paling mulia
dari kalangan terdahulu dan
terbelakang di sisi Allah (dan tidak
congkak)." (HR. Tirmidzi)
2. Ketika Aisyah Ra ditanya tentang
akhlak Rasulullah Saw, maka dia
menjawab, "Akhlaknya adalah Al
Qur'an." (HR. Abu Dawud dan
Muslim)
3. Aku penutup para nabi. Tidak ada
nabi lagi sesudah aku. (HR. Ahmad
dan Al Hakim)
4. Aku diberi (oleh Allah) hikmah-
hikmah yang banyak dalam ucapan-
ucapan yang sedikit. (Maksudnya,
ucapan-ucapan beliau singkat tetapi
mengandung makna yang luas dan
dalam). (HR. Ahmad)
5. Kepada Rasulullah Saw
disarankan agar mengutuk orang-
orang musyrik. Tetapi beliau
menjawab: "Aku tidak diutus untuk
(melontarkan) kutukan, tetapi
sesungguhnya aku diutus sebagai
(pembawa) rahmat." (HR. Bukhari
dan Muslim)
6. Anas Ra, pembantu rumah
tangga Nabi Saw berkata, "Aku
membantu rumah tangga Nabi Saw
sepuluh tahun lamanya, dan belum
pernah beliau mengeluh "Ah"
terhadapku dan belum pernah beliau
menegur, "kenapa kamu lakukan ini
atau kenapa tidak kau lakukan
ini." (HR. Ahmad)
7. Rasulullah Saw melakukan shalat
malam sehingga kedua kakinya
bengkak. Beliau juga tidak senang
bila ada orang berjalan di
belakangnya. (Artinya, tidak sejajar
dan berjalan di belakangnya dengan
maksud untuk menghormati beliau.)
(HR. Bukhari dan Muslim)
8. Anas Ra berkata, "Rasulullah Saw
adalah orang yang paling baik,
paling dermawan (murah tangan),
dan paling berani". (HR. Ahmad)
9. Tiada seorang beriman hingga
aku lebih dicintai dari ayahnya,
anaknya, dan seluruh manusia. (HR.
Bukhari)
10. Aku Muhammad dan Ahmad
(terpuji), yang dihormati, yang
menghimpun manusia, nabi
(penyeru) taubat, dan nabi
(penyebar) rahmat. (HR. Muslim)
Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar
Ajaran Muhammad) - Dr.
Muhammad Faiz Almath - Gema
Insani Press

Senin, 17 Mei 2010

Pengertian hadis

Hadits adalah segala perkataan
(sabda), perbuatan dan ketetapan
dan persetujuan dari Nabi
Muhammad SAW yang dijadikan
ketetapan ataupun hukum dalam
agama Islam. Hadits dijadikan
sumber hukum dalam agama Islam
selain Al-Qur'an, Ijma dan Qiyas,
dimana dalam hal ini, kedudukan
hadits merupakan sumber hukum
kedua setelah Al-Qur'an.
Ada banyak ulama periwayat hadits,
namun yang sering dijadikan
referensi hadits-haditsnya ada tujuh
ulama, yakni Imam Bukhari, Imam
Muslim, Imam Abu Daud, Imam
Turmudzi, Imam Ahmad, Imam
Nasa'i, dan Imam Ibnu Majah.
Ada bermacam-macam hadits,
seperti yang diuraikan di bawah ini.
Hadits yang dilihat dari banyak
sedikitnya perawi
Hadits Mutawatir
Hadits Ahad
Hadits Shahih
Hadits Hasan
Hadits Dha'if
Menurut Macam
Periwayatannya
Hadits yang bersambung
sanadnya (hadits Marfu'
atau Maushul)
Hadits yang terputus
sanadnya
Hadits Mu'allaq
Hadits Mursal
Hadits Mudallas
Hadits Munqathi
Hadits Mu'dhol
Hadits-hadits dha'if disebabkan
oleh cacat perawi
Hadits Maudhu'
Hadits Matruk
Hadits Mungkar
Hadits Mu'allal
Hadits Mudhthorib
Hadits Maqlub
Hadits Munqalib
Hadits Mudraj
Hadits Syadz
Beberapa pengertian dalam ilmu
hadits
Beberapa kitab hadits yang
masyhur / populer
I. Hadits yang
dilihat dari banyak
sedikitnya Perawi
I.A. Hadits Mutawatir
Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh
sekelompok orang dari beberapa
sanad yang tidak mungkin sepakat
untuk berdusta. Berita itu mengenai
hal-hal yang dapat dicapai oleh
panca indera. Dan berita itu diterima
dari sejumlah orang yang semacam
itu juga. Berdasarkan itu, maka ada
beberapa syarat yang harus
dipenuhi agar suatu hadits bisa
dikatakan sebagai hadits Mutawatir:
1. Isi hadits itu harus hal-hal yang
dapat dicapai oleh panca indera.
2. Orang yang menceritakannya
harus sejumlah orang yang
menurut ada kebiasaan, tidak
mungkin berdusta. Sifatnya
Qath'iy.
3. Pemberita-pemberita itu
terdapat pada semua generasi
yang sama.
I.B. Hadits Ahad
Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh
seorang atau lebih tetapi tidak
mencapai tingkat mutawatir.
Sifatnya atau tingkatannya adalah
"zhonniy". Sebelumnya para ulama
membagi hadits Ahad menjadi dua
macam, yakni hadits Shahih dan
hadits Dha'if. Namun Imam At
Turmudzy kemudian membagi
hadits Ahad ini menjadi tiga macam,
yaitu:
I.B.1. Hadits Shahih
Menurut Ibnu Sholah, hadits shahih
ialah hadits yang bersambung
sanadnya. Ia diriwayatkan oleh
orang yang adil lagi dhobit (kuat
ingatannya) hingga akhirnya tidak
syadz (tidak bertentangan dengan
hadits lain yang lebih shahih) dan
tidak mu'allal (tidak cacat). Jadi hadits
Shahih itu memenuhi beberapa
syarat sebagai berikut :
1. Kandungan isinya tidak
bertentangan dengan Al-Qur'an.
2. Harus bersambung sanadnya
3. Diriwayatkan oleh orang /
perawi yang adil.
4. Diriwayatkan oleh orang yang
dhobit (kuat ingatannya)
5. Tidak syadz (tidak bertentangan
dengan hadits lain yang lebih
shahih)
6. Tidak cacat walaupun
tersembunyi.
I.B.2. Hadits Hasan
Ialah hadits yang banyak
sumbernya atau jalannya dan
dikalangan perawinya tidak ada
yang disangka dusta dan tidak
syadz.
I.B.3. Hadits Dha'if
Ialah hadits yang tidak bersambung
sanadnya dan diriwayatkan oleh
orang yang tidak adil dan tidak
dhobit, syadz dan cacat.
II. Menurut Macam
Periwayatannya
II.A. Hadits yang
bersambung sanadnya
Hadits ini adalah hadits yang
bersambung sanadnya hingga Nabi
Muhammad SAW. Hadits ini disebut
hadits Marfu' atau Maushul.
II.B. Hadits yang terputus
sanadnya
II.B.1. Hadits Mu'allaq
Hadits ini disebut juga hadits yang
tergantung, yaitu hadits yang
permulaan sanadnya dibuang oleh
seorang atau lebih hingga akhir
sanadnya, yang berarti termasuk
hadits dha'if.
II.B.2. Hadits Mursal
Disebut juga hadits yang dikirim
yaitu hadits yang diriwayatkan oleh
para tabi'in dari Nabi Muhammad
SAW tanpa menyebutkan sahabat
tempat menerima hadits itu.
II.B.3. Hadits Mudallas
Disebut juga hadits yang
disembunyikan cacatnya. Yaitu
hadits yang diriwayatkan oleh sanad
yang memberikan kesan seolah-
olah tidak ada cacatnya, padahal
sebenarnya ada, baik dalam sanad
ataupun pada gurunya. Jadi hadits
Mudallas ini ialah hadits yang
ditutup-tutupi kelemahan sanadnya.
II.B.4. Hadits Munqathi
Disebut juga hadits yang terputus
yaitu hadits yang gugur atau hilang
seorang atau dua orang perawi
selain sahabat dan tabi'in.
II.B.5. Hadits Mu'dhol
Disebut juga hadits yang terputus
sanadnya yaitu hadits yang
diriwayatkan oleh para tabi'it dan
tabi'in dari Nabi Muhammad SAW
atau dari Sahabat tanpa
menyebutkan tabi'in yang menjadi
sanadnya. Kesemuanya itu dinilai
dari ciri hadits Shahih tersebut di
atas adalah termasuk hadits-hadits
dha'if.
III. Hadits-hadits
dha'if disebabkan
oleh cacat perawi
III.A. Hadits Maudhu'
Yang berarti yang dilarang, yaitu
hadits dalam sanadnya terdapat
perawi yang berdusta atau dituduh
dusta. Jadi hadits itu adalah hasil
karangannya sendiri bahkan tidak
pantas disebut hadits.
III.B. Hadits Matruk
Yang berarti hadits yang
ditinggalkan, yaitu hadits yang
hanya diriwayatkan oleh seorang
perawi saja sedangkan perawi itu
dituduh berdusta.
III.C. Hadits Mungkar
Yaitu hadits yang hanya
diriwayatkan oleh seorang perawi
yang lemah yang bertentangan
dengan hadits yang diriwayatkan
oleh perawi yang terpercaya / jujur.
III.D. Hadits Mu'allal
Artinya hadits yang dinilai sakit atau
cacat yaitu hadits yang didalamnya
terdapat cacat yang tersembunyi.
Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani
bahwa hadis Mu'allal ialah hadits
yang nampaknya baik tetapi setelah
diselidiki ternyata ada cacatnya.
Hadits ini biasa disebut juga dengan
hadits Ma'lul (yang dicacati) atau
disebut juga hadits Mu'tal (hadits
sakit atau cacat).
III.E. Hadits Mudhthorib
Artinya hadits yang kacau yaitu
hadits yang diriwayatkan oleh
seorang perawi dari beberapa sanad
dengan matan (isi) kacau atau tidak
sama dan kontradiksi dengan yang
dikompromikan.
III.F. Hadits Maqlub
Artinya hadits yang terbalik yaitu
hadits yang diriwayatkan oleh
perawi yang dalamnya tertukar
dengan mendahulukan yang
belakang atau sebaliknya baik
berupa sanad (silsilah) maupun
matan (isi).
III.G. Hadits Munqalib
Yaitu hadits yang terbalik sebagian
lafalnya hingga pengertiannya
berubah.
III.H. Hadits Mudraj
Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh
seorang perawi yang didalamnya
terdapat tambahan yang bukan
hadits, baik keterangan tambahan
dari perawi sendiri atau lainnya.
III.I. Hadits Syadz
Hadits yang jarang yaitu hadits yang
diriwayatkan oleh perawi yang
tsiqah (terpercaya) yang
bertentangan dengan hadits lain
yang diriwayatkan dari perawi-
perawi (periwayat / pembawa) yang
terpercaya pula. Demikian menurut
sebagian ulama Hijaz sehingga
hadits syadz jarang dihapal ulama
hadits. Sedang yang banyak dihapal
ulama hadits disebut juga hadits
Mahfudz.
IV. Beberapa
pengertian (istilah)
dalam ilmu hadits
IV.A. Muttafaq 'Alaih
Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Bukhari dan Imam Muslim
dari sumber sahabat yang sama,
atau dikenal juga dengan Hadits
Bukhari - Muslim.
IV.B. As Sab'ah
As Sab'ah berarti tujuh perawi,
yaitu:
1. Imam Ahmad
2. Imam Bukhari
3. Imam Muslim
4. Imam Abu Daud
5. Imam Tirmidzi
6. Imam Nasa'i
7. Imam Ibnu Majah
IV.C. As Sittah
Yaitu enam perawi yang tersebut
pada As Sab'ah, kecuali Imam
Ahmad bin Hanbal.
IV.D. Al Khamsah
Yaitu lima perawi yang tersebut
pada As Sab'ah, kecuali Imam
Bukhari dan Imam Muslim.
IV.E. Al Arba'ah
Yaitu empat perawi yang tersebut
pada As Sab'ah, kecuali Imam
Ahmad, Imam Bukhari dan Imam
Muslim.
IV.F. Ats tsalatsah
Yaitu tiga perawi yang tersebut pada
As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad,
Imam Bukhari, Imam Muslim dan
Ibnu Majah.
IV.G. Perawi
Yaitu orang yang meriwayatkan
hadits.
IV.H. Sanad
Sanad berarti sandaran yaitu jalan
matan dari Nabi Muhammad SAW
sampai kepada orang yang
mengeluarkan (mukhrij) hadits itu
atau mudawwin (orang yang
menghimpun atau membukukan)
hadits. Sanad biasa disebut juga
dengan Isnad berarti penyandaran.
Pada dasarnya orang atau ulama
yang menjadi sanad hadits itu
adalah perawi juga.
IV.I. Matan
Matan ialah isi hadits baik berupa
sabda Nabi Muhammad SAW,
maupun berupa perbuatan Nabi
Muhammad SAW yang diceritakan
oleh sahabat atau berupa taqrirnya.
V. Beberapa kitab
hadits yang
masyhur / populer
1. Shahih Bukhari
2. Shahih Muslim
3. Riyadhus Shalihin
Sumber: http://id.wikipedia.org/
wiki/hadits