HTML

Sabtu, 22 Mei 2010

Pertanyaan hadits yg paling shahih

Syaikh Sa’d bin ‘Abdullah Al Humaid
ditanya tentang pertanyaan seorang
pemuda berikut :
“Saya seorang pemuda yang
memiliki ghirah tinggi terhadap
Islam, menjaga shalat dan rukun-
rukunnya. Pertanyaan saya,
manakah hadits yang paling
shahih?”.
Maka beliaupun menjawab :
Kami katakan, kami memohon
kepada Allah Jalla wa ‘Ala bagi kami
dan seluruh saudara-saudara kita,
kaum Muslimin agar dianugerai
ketegaran untuk tetap istiqamah.
Adapun mengenai hadits-hadits
shahih, maka melalui pertanyaan
anda, nampak bagi saya, bahwa
anda adalah seorang penuntut ilmu
pemula. Orang seperti anda, tentu
tidak bisa membedakan sendiri,
mana hadits yang shahih dan mana
yang tidak melalui jalur kajian sanad.
Oleh karena itu, anda harus antusias
untuk menggunakan kitab-kitab
yang konsisten memilah mana
hadits yang shahih. Bila anda
menemukan sebuah hadits dirujuk
kepada kitab ash-Shahihain (Shahih
al Bukhari dan Muslim) atau salah
satu dari keduanya, maka ini baik.
Atau bila anda mendapatkan salah
seorang ulama yang diakui kapasitas
keilmuannya menshahihkannya,
maka ini baik. Di antaranya,
pentash-hihan yang dilakukan
Syaikh Nashiruddin al Albani,
sekalipun tidak seorang pun yang
dapat terhindar dari kritikan dan
sorotan. Yang penting, beliau
memang demikian mengabdikan
dirinya untuk Sunnah Nabi Sallallahu
'Alahi Wasallam.
Orang seperti anda juga perlu
mengambil buku-buku yang
konsisten memilah mana hadits
yang shahih. Artinya, anda tidak
boleh menerima begitu saja setiap
hadits yang diriwayatkan,
menyampaikan sebuah hadits yang
dikatakan kepada anda atau
menerima hadits dari buku apa saja
yang anda lihat. Hendaknya anda
berhati-hati. Sebab Nabi Sallallahu
'Alahi Wasallam bersabda :
ْنَم َثَّدَح ىِّنَع ٍثيِدَحِب
ىَرُي ُهَّنَأ ٌبِذَك َوُهَف
ُدَحَأ َنيِبِذاَكْلا
“Barangsiapa meriwayatkan suatu
hadits dariku dan dia tahu bahwa itu
adalah dusta, maka dia adalah salah
satu dari para pendusta”
Dalam sebagian riwayat disebutkan,
”…maka ia termasuk salah seorang
tukang banyak dusta.”
Dalam hal ini, silahkan merujuk
kepada mukaddimah Shahih
Muslim, sebab beliau
mengetengahkan apa yang
semestinya dijadikan dalil dalam
masalah seperti ini, khususnya dari
pendapat-pendapat para ulama
dalam memperingatkan tindakan
meriwayatkan hadits tanpa
mengetahui mana yang shahih dan
mana yang tidaknya.? Sebab hal ini
dianggap sebagai ‘mengatakan
sesuatu terhadap Allah dan Nabi-
Nya tanpa ilmu.”
Wallahu A'lam.
(SUMBER: Fatawa Haditsiyyah karya
Syaikh Sa’d bin ‘Abdullah Al
Humaid, hal.160-161)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar